Tampilkan postingan dengan label kyai kocak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kyai kocak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

Rehat Bersama Kyai Kocak "Anak Adam atau Sarimin?"

“Hedeeeeeew, capeeeee”.
“Ono opo. Kok sumpek begitu?”
“Serba cape kyai”.
“Lha, ya memang orang hidup harus cape. Kalo pengen istirahat dari cape, ya mati saja”.
“Sebenarnya cape yang kita alami ini, adalah warisan dari kesalahan sejarah”.
“Ndak usah menyalahken sejarah. Pelaku sejarah yang mungkin keliru”.
“Lha itu maksud saya. Pelaku sejarah yang membuat kita harus menanggung kesusahan hidup di sini”.
“Apa maksud sampeyan?”
“Sebenarnya, manusia seperti kita tidak perlu turun ke dunia. Sejak awal, kita hidup penuh kebahagiaan di surga. Ndak perlu cape, ndak perlu menderita. Tapi hidup penuh bahagia”.
“Lha lha lha, dari mana sampeyan dapet pemikiran seperti itu?”
“Lha, kan Al-Qur’an sendiri yang menceritakan bahwa nenek moyang manusia, Adam, melanggar larangan Tuhan. Kemudian tersusir dari surga”.


“Terus, karena Adam terusir dari surga, sampeyan merasa terusir juga, begitu?”
“Lha coba kalo Adam tidak melanggar larangan Tuhan, bukan hanya saya, kyai juga ada di surga sekarang”.
“Wah, sampeyan egois”.
“Kok egois? Egois dari Hongkong!”
“Lha iya. Sampeyan hanya menilai kepindahan Adam as dari surga ke dunia, sebatas kepentingan sampeyan”.
“Tidak juga kyai, yang merasa seperti ini bukan hanya saya”.
“Tapi saya tidak. Sampeyan itu ndak sadar terpengaruh konsep dosa warisan”.
“Lha Al-Qur’an merekam kok, bagaimana peristiwa terusir dari surga”.


“Betul. Tapi Al-Qur’an tidak menyalahkan Adam. Al-Qur’an juga memuat kisah pertobatan Adam lalu Allah mengampuni Adam seperti disebut dalam surat 2 ayat 37. Dalam Islam, dosa tidak bisa diwariskan karena bertentangan dengan konsep amal soleh. Al-Qur’an sendiri dengan tegas menyatakan, wa laa taziruu waazirotun wizro ukhroo. Sampeyan baca surat 17 ayat 15”.
“Lha pertanyaannya, mengapa Adam harus pindah ke dunia?”
“Lha ya suka-suka Allah dong. Adam saja ndak protes”.
“Jawaban kolot, ndak ilmiyah”.


“Lha sekarang kasih tau saya. Bagaimana jawaban yang ilmiyah itu?”
“Ndak cukup di sini. Terlalu panjang”.
“Halah ngelak. Hati-hati sampeyan, jangan asal mengeluarkan pikiran. Apalagi pikiran sampeyan itu hanya sekedar ingin disebut kritis. Sampeyan ndak sadar, itu bukan kritis tapi krisis”.
“He he he he … memang begitulah kyai kampung. Takut berpikir bebas”.
“Ho ho ho ho … jangan takabbur. Kebebasan itu juga punya batasan. Ndak ada yang bebas sebebas-bebasnya”


“Lha, inilah alasan kyai dan orang-orang kolot yang selalu didengung-dengungkan. Sebagai legitimasi mereka takut berpikir bebas. Kasian”.
“Oke, sekarang saya ingin tahu, sampai di mana sampeyan bisa berpikir bebas”.
“Sebenarnya saya agak malas nimpali. Tapi, demi menghormati kyai, apa boleh buat”.
“Saya juga agak malas nimpali sampeyan. Tapi demi memuaskan keingintahuan saya, apa boleh buat. Tolong jujur, mengapa sampeyan merasa ikuti terusir dari surga?”
“Ya, karena saya adalah anak keturunan Adam?”
“Siapa yang jamin bahwa sampeyan anak keturunan Adam?”
“Lha kan saya sama-sama manusia. Adam nenek moyang manusia. Gitu aja kok ditanyaain”.
“Jangan mentang-mentang karena sama-sama manusia, sampeyan mengaku keturunan Adam. Apa Adam sudah mengakui sampeyan itu keturunannya? Adam belom pernah ketemu sampeyan kan? Jangan ge-er sampeyan!”
 
“Itu ndak penting ditanyakan. Yang penting, semua manusia itu keturunan Adam”.
“Kalo begitu, semestinya sampeyan bersyukur dan berterima kasih kepada Adam. Bukan malah menyalahkan. Kalo Adam swaktu-waktu nemuin sampeyan, sampeyan pasti dipenthung. Masih untung sampeyan dijadiin manusia. Coba kalo sampeyan sejak lahir jadi monyet, nasib sampeyan bisa jadi kaya Sarimin yang disuruh-suruh pergi ke pasar. Sampeyan mau?”
“walahhhhh T^%&$%^#“


Akhirnya cerita Kyai kocak saya update lagi setelah beberapa minggu vakum,credit for pak abdul muttaqin penulis Kyai Kocak.semoga terhibur dengan kekocakan kyai satu ini,Salam Yang PEnting share,Official of Kyai kocak Story.Dapatkan cerita lainnya di daftar cerita kyai kocak

Sabtu, 09 Juli 2011

Rehat Bersama Kyai Kocak "Jam Kosong"

“Mbrakbaaaal…saya dikadalin. Sungguh terlaluhhh”.

“Lha, ono opo? Pagi-pagi sudah nyanyi tembang kesengsaraan”.

“Itu kyai … kelas banyak yang kosong”.

“Lha, ini kan jam belajar. Ndak mungkin kosong”.

“Lha itu buktinya. Siswa teriak-teriak ndak ada gurunya”.

“Ooo … ndak ada gurunya bukan berarti kelas itu kosong, toh?”

“Kyai ini piye? Gurunya ndak masuk ngajar. Makanya kelas kosong”

“Lha, siswanya ada di kelas ndak?”.

“Ada. Pada ribut ndak karu-karuan”.

“Ya, kalo masih ada siswa di kelas, namanya ndak kosong. Kalo kosong ndak ada gurunya, ndak ada siswanya”.

“Kalo gurunya ndak masuk, maka istilahnya kelas kosong kyai”.

“Halah, istilah kok, ndak menunjukkan pengertiannya”.

“Ya memang dari dulu begitu istilahnya, kyai”.

“Lha, gurunya memang pada kemana ndak masuk?”

“Ini yang saya ndak habis pikir. Masa, lebih mementingkan jenguk orang yang baru pulang umroh ketimbang ngajar. Lepas ngajar kan bisa. Kalo begini, kan anak-anak bangsa yang dikorbankan”.

“Ah sampeyan dipolmatis. Biasa aja lagee”

“Lha, kyai kok terkesan membela mereka. Sudah jelas mereka ndak disiplin”.



“Sampeyan sudah periksa silabus mereka belom?”

“Lha, apa hubungannya dengan silabus?”

“Sudah sampeyan periksa belom? Sampeyan kan kepala sekolah. Harus jeli”.

“Sudah. Sudah saya tanda tangani”.

“Lha dibaca ndak?”

“Ya tidak tuntas sih”.

“Lha itu keteledoran sampeyan. Sampeyan wajib tau, apa yang ditulis guru dalam silabusnya”.

“Ya tapi, apa hubungannya dengan ninggalin kelas mementingkan jenguk orang yang baru pulang umroh?”

“Lha, siapa tahu ada satu kompetensi dasar tentang sillaturrahim. Lalu guru sampeyan buat indikatornya begini, ‘Mampu menerapkan budaya kunjung mengunjungi kepada sesama muslim yang baru pulang umroh’. Sampeyan mau bilang apa? Silabus sudah sampeyan tanda tangani. Mau apa coba?”

“Kok, saya ndak kepikiran ya?”

“Nah makanya, sampeyan jangan uring-uringan dulu. Bisa jadi mereka yang benar, sampeyan yang ndak teliti”.

“Kalo saya marah, salah ndak kyai? Saya kan kepala sekolah”.

“Lha justeru karena sampeyan kepala sekolah, sampeyan itu harus lebih ngerti dari guru-guru sampeyan. Kalau kepala sekolah gampang marah, ndak baik. Kaya sampeyan ndak pernah jadi guru biasa saja”.

“Tapi kalo saya diam saja, malah nanti mereka semakin seenaknya”.

“Ya jangan diam saja”



“Lha terus, saya harus berbuat apa?”

“Bilang saja baik-baik, ‘terima kasih pak, terima kasih bu. Bagaimana kunjungan ke rumah orang yang baru umroh itu? Semoga banyak berekatnya. Saya do’akan, InsyaAllah, besok atau lusa, bapak atau ibu yang berangkat umroh. Biar bisa lebih lama ninggalin siswa-siswa di kelas’. Bilang begitu. Ndak usah pake marah. Nanti juga mereka mikir”.  

“Yah, kyai. Kaya ndak kenal mereka saja. Pastinya mereka punya jawaban.’Ah, bapak. Sekali aja ninggalin kelas, apa ruginya sih’. Nah, kalo sudah begitu, saya mau gimana lagi?”

“Ya harus tambah percaya”.

“Tambah percaya apa?

“Lha ya guru kan, memang pandai ngeles. Ngeles Matematika, ngeles Fisika, ngeles bahasa Inggris, termasuk ngelesssss …..”.

“Halah! Mbrakbal kyai”.



Akhirnya cerita Kyai kocak saya update lagi setelah beberapa minggu vakum,credit for pak abdul muttaqin penulis Kyai Kocak.semoga terhibur dengan kekocakan kyai satu ini,Salam Yang PEnting share,Official of Kyai kocak Story.Dapatkan cerita lainnya di daftar cerita kyai kocak

Senin, 06 Juni 2011

Rehat bersama kyai kocak _"kismin eh miskin"

“Hidup saya kok, selalu susah ya kyai”
“Jangan ngeluh. Ndak baik. Siapa tahu, itu cuma perasaan sampeyan saja”.
“Lha, kenyataan hidup saya memang susah terus kyai. Ndak pernah merasakan enak”.
“Moso sih? Mana ada orang ndak pernah merasakan enak. Jangan muna sampeyan”.
“Terserahlah kyai mau bilang apa. Yang merasakan kan saya sendiri, bukan kyai. Apa lagi anak saya tujuh. Halah … lieurrrrrrrrr”.
“Lha ya di sini sampeyan itu munafik”.
“Lho kok munafik?”
“Lha ndak enak kok, anak bisa sampe tujuh. Itu namanya mengingkari nikmat”.
“!???”

....................................

“Ya ndak usah melotot. Kyai kok diplototin. Kwalat sampeyan”.
“Bukan yang itu maksudnya. Kyai salah tangkap”.
“Lha sampeyan ndak ngasih tahu”.
“Allah kan pernah janji mau merubah nasib ummat-Nya. Tapi kenapa saya tetep miskin... susah, padahal sudah kerja keras.”
“Sekeras apa kerja sampeyan?”
“Lha saya sudah kerja keras. Tiap hari kerja keras. Saya jadi kuli panggul di pasar, itu kerja keras kyai”
“Sampeyan ora ngerti, zaman edan kaya gini, orang tidak cukup hanya kerja keras. Tapi juga harus kerja cerdas”.
“Halahh … kuli panggul saja kok, harus cerdas. Yang pada cerdas, malah pada korupsi. Sudah korupsi, kabur lagi. Pura-pura sakit. Pura-pura lupa. Huh …. Ndak adil. Yang jujur, tetep saja miskin”.
"Lha, sampeyan mau. Jadi kaya, tapi dijidat sampeyan ada tulisan “koruptor”?
“Ya ndaklah. Malu dunia akherat”.
“Lha itu ngerti. Sampeyan syukuri saja apa yang Allah beri. Yang penting sampeyan bisa ibadah. Kebutuhan keluarga sampeyan yang pokok, masih bisa dipenuhi. Apa upah kuli panggul ndak cukup untuk makan sehari-hari?”


....................................

“Ya kalo bicara sekedar cukup untuk makan dengan tahu dan tempe, ya cukup. Tapi kan saya juga pengen punya rumah. Ndak Ngontrak melulu”.
“Banyak juga yang ndak bisa makan walaupun hanya dengan tahu tempe. Banyak juga yang ndak sanggup ngontrak. Tidurnya di emperan. Lha sampeyan, anak punya tujuh, makan masih setiap hari. Kontrakan punya. Mau apa lagi?”
“Ya mau kaya. Saya pingin kaya kyai”.
“Ya salaaaaam. Sampeyan itu kaya, cuma sampeyan ndak sadar sampeyan itu kaya”.
“Ndak, saya miskin. Kyai cuma menghibur. Ndk mempan”.
“Ya sudah. Terserah sampeyan. Orang kok, ngotot ngaku miskin”.
“Saya ngaku miskin, karena saya ingin kaya. Kyai juga pasti tidak ingin miskin kan?”
“Ya ndak”.
“Kyai juga pengen kaya kan?”
“Ndak juga”.


....................................

“Lha, piye?. Miskin ndak mau. Kaya ndak mau. Maunya opo?”
“Maunya ya , ndak miskin ndak kaya”.
“Hidup model apa begitu? Orang kalo ndak miskin, ya kaya. Kalo ndak kaya, ya miskin. Hanya ada dua, miskin atau kaya”.
“Sampeyan tahunya cuma kaya-miskin, kaya-miskin. Lebih enak hidup pas-pasan”.
“Hwahahahahahaha …pas-pasan itu sama saja dengan miskin kyai. Saudara kembar”.
“Siapa bilang?”
“Saya. Apa enaknya hidup pas-pasan”.
“Wuenak. Serba menyenangkan. Hidup tenang. Ibadah tenang. Siang malam tenang”.
“Kyai kok, gombal”.
“Sampeyan yang akalnya ndak sampe”.
“Jangan menghina kyai. Walaupun saya miskin, saya juga manusia yang punya perasaan”.
“Perasaan sampeyan sudah tumpul. Ndak ngerti enaknya hidup pas-pasan”.
“Tulung dah, apa sih enaknya hidup pas-pasan”.
“Neee … pas pengen mobil bisa beli. Pas pengen rumah bisa beli. Pas pengen umroh bisa pergi. Pas pengen sedekah bisa memberi. Pas peng …..”.
“Sompreeeeeeeet!”.
Wkwkwkwkwkwkwk.


Jumat, 03 Juni 2011

Daftar Isi Kyai Kocak (Update Terus)

Assalamualaikum wr.wb
Di blog Yang penting share ini bakal ada cerrpen kisah tentang kehidupan kyai kocak(bukan nama sebenernya),seorang pemuka agama (islam) tentunya,yang sangat kolot,gag gaul,and juga tua(namanya kyai)hehehe.,tetapi akal dan kecerdikannya serta ilmu pengetahuan nya tentang islam subhanallah sangat lah luar biasa.Dalam kehidupannya (pada cerpen ini),kyai kocak akan menshare pengalamn hidupnya yang membuat kita tersenyum atau bahkan tertawa sendiri,melihat fenomena dan kondisi masyarakat kita pada saaat ini.Semoga cerita -cerita ini dapat menghibur,sekaligus menjadi tauladan kita dalam kehidupan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa.Amin.

Special thanks for Bapak Abdul Muttaqin,selaku orang yang memliki ide untuk membuat cerita yang sarat hikmah ini,menghidupkan suatu karakter bernama 'kyai kocak',dan mengizinkan saya untuk menshare nya di blog ini .Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang membacanya,dan bapak senantiasa dilimpahan rahmatt,karunia,serta pahala atas kreativitas bapak dalam menyampaikan suatu dakwah lewat cerita moral ini. Amin ya robal alamin

berikut adalah episode-episode cerita Kyai 'kocak' ini.Dan saya harapkan jangan ada namanya plagiatisme,kalo para pembaca tertarik,alangkah baiknya minta izin kepada bapak Abdul muttaqin,karena ini adalah ide beliau.Blog ini adalah salah satu media penyampaiannya.
biodata Abdul muttaqin berikut fbnya bisa anda lihat disini "Abdul mutaqin facebook"
Daftar cerpen Rehat bersama Kyai kocak :
  1. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Sunan Kudus Salah Orang”
  2. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Cuci Muka Sampeyan” 
  3. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Babi Aja Kaga Protes”
  4. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Otak Kancil"
  5. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Tuhan Itu Agamanya Apa? ” 
  6. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Di Surga Tidak Ada Nenek-nenek”
  7. Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Kamu Saya Cerai!
  8. Rehat Bersama Kyai KocaK_"Ini Dia Bukti Keberadaan Tuhan" 
  9. Rehat Bersama Kyai KocaK _"Dinosaurus itu Halal atau Haram? 
  10. Rehat Bersama Kyai KocaK _"manusia 6666 bulu"
  11. Rehat Bersama Kyai KocaK _"Najis Mughalazah"
  12.  Rehat Bersama Kyai KocaK _"Kismin Eh Miskin
  13. Rehat Bersama Kyai Kocak "Jam Kosong"
    NB:Mohon maaf mungkin cuma sampai disini seri kyai kocak,untuk yang berikutnya silahkan baca di bukunya.Bukunya masih dalam tahap penulisan menurut pengarangnya,jadi tidak dipublikasikan dulu.

    (NB : Cerita ini bakal di update Bila ada Ide lagi,Silahkan Mengirimkan Ide ceritanya Dibagian Contact ME Bila berminat,Mari tebarkan Dakwah melalui Media  )

    Rabu, 25 Mei 2011

    Rehat Bersama Kyai Kocak _" NAJIS MUGHALAZAH"


     “Assalamu’alaikum kyai, gawat … gawat!”


    “Wa’alaikumussalam warahmatullaah. Ada apa sih. Kaya orang dikejar-kejar kuntilanak!”
    “Gawat kyai … gawat”.

    “Apanya yang gawat? Ngomong yang jelas”.
    “Anu kyai … anu santri”.

    “Kenapa anunya santri?”

    “Bukan anunya santri kyai, kakinya santri”.
    “Walaaah … duduk! Nih minum dulu. Tarik nafas. Rileks. Tenang”.

    “Alhamdulillaah … Maaf kyai, boleh nambah tehnya?”.

    “Halaaah … ambil sendiri sana”.
    “Alhamdulillaah … terima kasih kyai. Sekarang saya sudah tenang”.
    “Terus ada apa gawat-gawat. Dateng-dateng kok bawa yang gawat-gawat. Bikin panik orang saja sampeyan”.

    “Memang ada berita yang gawat kyai. Makanya saya datang ke sini buru-buru biar kyai tahu”.“Yah sudah. Sekarang ceritakan, ada berita apa dan segawat apa? Jangan bikin penasaran”.

    “Anu kyai, ada santri digigit anjing”.

    “Ya salaam….”.

    “Tapi sudah diurus ketua asrama, kyai. Sudah dibasuh tujuh kali. Salah satunya dengan tanah. Soalnya liur anjing menurut fiqih, adalah najis mughalazhah. Sudah pula dikasih obat dan perban. Pokoknya beres”.

    "Ya salaam ……”.

    “Ndak usah khawatir kyai. Anjingnya juga sudah di karantina. Itu anjing milik si Ucok, tetangga pondok. Si Ucok juga sudah memberi biaya perawatan. Sekaligus minta maaf pada kyai, bahwa anjingnya sudah menggigit santri kyai”.

    “Ya salaaaamm”.
    “Kok, cuma ya salam, kyai?”
    “Ya sampeyan nyercocos terus kaya petasan cabe. Mana sempet saya ngomong”.
    “Maaf kyai, habis saya panik”.

    “Cuman soal santri digigit anjing saja teriak-teriak kaya ada kebakaran sepondok”.

    “Lha, kyai kok, ngomongnya begitu?”

    “Ya mau apa lagi? Kan semuanya sudah diurus ketua asrama. Ndak perlu heboh kaya gitu. Tak pikir soal apa. Ndak tahunya cuma soal digigit anjing”.

    “Tapi kan ini berita luar biasa, kyai. Ndak biasa terjadi”.

    “Ah, itu mah bukan berita luar biasa. Ada santri digigit anjing mah, berita biasa saja”.

    “Lha, ini berita luar biasa kyai. Nanti kalo masyarakat tahu ada santri digigit anjing, reputasi keamanan pondok kita, bisa rontok”.

    “Ah … jangan didramatisir”.
    “Maksud kyai apa? Saya ndak ngerti”.“Sampeyan belom tahu, apa pura-pura ndak tahu. Yang namanya anjing memang suka menggigit. Apalagi kalo ada tulangnya. Biasa kan? Yang luar biasa itu, kalo ada anjing digigit santri. Lalu anjingnya dibasuh tujuh kali, salah satunya dengan tanah. Itu baru berita luar biasa. Sampeyan ngerti ora!?”

    “!!!???@#$%^&*&^%^%$%$#$#@!”, semaput.
    Wkwkwkwkwkwkwkwk …

    Kamis, 19 Mei 2011

    Rehat Bersama Kyai Kocak _"Manusia 6666 bulu "


    بسم الله الرحمن الرحيم
    Assalamualaikum wr.wb,Halo Sharelikers sekalian,apa kabarnya sekalian,MAsih ingat dengan Kyai Kocak?ituloh cerita yang sudah saya buatkan halaman nya khusus.Hehehe,Kalo Belum tahu  Nih saya kasih linknya,heheSerial Kyai Kocak .

    Nah,Setelah sekian lama Vakum menulis cerita Kyai kocak,Kyai yang dengan segala jurus andalanya memusnahkan kemungkaran dan menegakkan kebajikan ini Come back,.,hehe Kayak superhero aja ya?tapi emang,cerita-cerita Kyai Kocak ini mengangkat realita yang terjadi ada ditengah-tengah masyarakat kita,begitulah karakter dan cerita yang dipaparkan oleh si pencipta Tokoh Kyai Kocak,Pak Abdul Muttaqin.

    Mari kita simak cerita nya yang satu ini,semoga  dapat diambil hikmah yang ada didalamnya,Oke langsung saja simak cerita Ngawur Namun penuh makna berikut Ini.Jangan lupa untuk baca cerita lainnya DISINI

        "Kyai sekarang tidak mumpuni".
        "Masa?"
        "Cenderung duniawi".
        "Masa?"
        "Maen politik lah, sinetron lah, nyanyi lah".
        "Itu kan ma'isyah".
        "Facebookan lah, internetan lah. Mengurangi muru'ah".
        "Masa?".
        "Ilmunya tidak sampai batin, hanya sampe kulit".
        "Masa?".
        “Ya, akibat tidak menjaga muru’ah. Ndak ada yang punya ladunni”.
        “Masa?”
        "Kyai dulu batinnya tajam. Sampe bisa tahu berapa helai bulu di badan orang".
        “Masa?”
        “Istilahnya, hal-hal yang ghaib bisa dirasa. Kaya para sunan yang bisa mengubah buah Kolangkaling jadi emas”.
        “Sampeyan mengecilkan kyai zaman sekarang. Ndak baik”.
        “Nyatanya begitu. Masa kyai muncul di acara insert, gossip, silet, kasak-ksusuk, cek en ricek, gara-gara hubungan dengan perempuan lah, inilah”.
        “Ya kan ndak semua kyai begitu”.
        “Ya makanya, jadi menurunkan martabat kyai secara umum”.
        “Saya tidak mengada-ngada nih. Saya juga bisa tahu jumlah helai bulu sampeyan”.
        “Mustahil. Kyai kan kyai-kyaian. Cuma kyai Kocak. Bukan sungguhan”.
        “Ya ndak masalah. Yang pentingkan saya bisa tahu berapa helai jumlah bulu di badan sampeyan. Itu kan yang sampeyan permasalahkan?”
        “Betul, tapi mustahil kyai bisa tahu”.“Kalau saya merasa tahu, sampeyan mau apa?”
        “Sebutkan, berapa helai jumlah bulu yang ada di badan saya!”.
        “6666 helai”.
        “Bohong. Ngarang itu. Saya tidak percaya”.
        “Sampeyan mau bukti?”
        “Ya. Tapi saya tetap meragukan. Saya tidak yakin dengan kyai model kyai ini”.
        “Terserah sampeyan. Toh saya juga tidak meminta sampeyan percaya saya. Yang jelas saya taksir jumlah bulu sampeyan 6666 helai”.
        “Tunjukkan caranya dari mana angka 6666 itu, biar saya percaya”.
        “Keciiiiiil. Semudah membalikkan telapak tangan bagi saya”.
        “Sombong”.
        “Bukan sombong. Anak kecil juga bisa tahu jumlah helai bulu sampeyan. Sampeyan aja yang terlalu memistikkan kyai”.
        “Sudah, to the point saja. Bagaimana caranya?”.
        “Sampeyan cabuti satu satu bulu sampeyan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu hitung satu-satu. Nanti kalo kurang dari 6666, bilang saya. Nanti tak tambahi dengan bulu monyet supaya genap 6666 helai”.

        "%^$^%$$& wtf"

        Wkwkwkwkwkwkwkwkwk.Kyai dilawan


    ~~~~SILAHKAN BERCELOTEH DI KOTAK KOMENTAR~~~

    Senin, 16 Mei 2011

    Rehat Bersama Kyai Kocak _"Dinosaurus itu Halal Atau haram ?"

    بسم الله الرحمن الرحيم
    Assalamualaikum wr.wb,Halo Sharelikers sekalian,apa kabarnya sekalian,MAsih ingat dengan Kyai Kocak?ituloh cerita yang sudah saya buatkan halaman nya khusus.Hehehe,Kalo Belum tahu  Nih saya kasih linknya,heheSerial Kyai Kocak .


    Nah,Setelah sekian lama Vakum menulis cerita Kyai kocak,Kyai yang dengan segala jurus andalanya memusnahkan kemungkaran dan menegakkan kebajikan ini Come back,.,hehe Kayak superhero aja ya?tapi emang,cerita-cerita Kyai Kocak ini mengangkat realita yang terjadi ada ditengah-tengah masyarakat kita,begitulah karakter dan cerita yang dipaparkan oleh si pencipta Tokoh Kyai Kocak,Pak Abdul Muttaqin.

    Mari kita simak cerita nya yang satu ini,semoga  dapat diambil hikmah yang ada didalamnya,Oke langsung saja simak cerita Ngawur Namun penuh makna berikut Ini.Jangan lupa untuk baca cerita lainnya DISINi
     
    “Kyai, Dinosaurus, halal ndak dagingnya?” “Kok, sampeyan nanya yang macem-macem?" 
    “Bukan macem-macem kyai, daging Dinosaurus halal apa tidak?” 
    “Ya, ngerti. Pertanyaan sampeyan itu yang macem-macem”. “Hanya satu macem kyai. 
    Cuma daging Dinosaurus halal apa tidak”. “Sampeyan jauh-jauh dateng ke sini cuma mau tanya soal itu?” “Banyak.
    Nanti kalo soal Dinosaurus sudah terjawab, baru ke soal yang laen”. “Saya ndak mau jawab”. 
    “Kyai bukan ndak mau jawab. Tapi kyai ndak tahu jawabannya. Ya toh?” “Ndak mau, bukan berarti ndak tahu”.
    “Halah, itu cuma alibi kyai. Biar wibawanya ndak jatuh di mata saya”.
    “Lha, apa wibawa harus jatuh kalo ndak mau jawab pertanyaan ngeyel model sampeyan?” “Lha, ini bukan pertanyaan ngeyel. Ini namanya mudzakarah, mengasah kecerdasan menjawab masalah umat”. 
    “Emang umat punya masalah apa dengan si Dinosaurus?”
    “Bukan ke situ maksudnya kyai. Wajar kan kalo suatu saat umat bertanya tentang status hukum yang belum diketahui” “Betul. Tapi kalo pokok soalnya adalah daging Dinosaurus, itu yang kurang wajar”. 
    “Ya wajar-wajar saja, kyai. Namanya juga orang kepengen tahu. Masalahnya, kyai mampu atau tidak menjawab masalah ini. Kyai tahu atau tidak hukum daging Dinosaurus. Itu yang penting”.
    “Sampeyan sok tahu soal Dinosaurus”.
    “He he he … Asal kyai tahu ya, Bukan saya nyombong nih, saya ini Antropolog, kyai. Saya paham betul soal Dinosaurus, Brontosaurus, Thyrex dan segala jenis hewan purbakala. Saya sering diundang ceramah ke luar negeri soal hewan purba. Saya ahlinya. Nih … sertifikatnya”. “Oooh … hebat sampeyan”.
     
    ..................................  

    “Iya lah. Saya kan bukan kyai yang langkahnya cuma dari satu pondok ke pondok yang laen. Paling khutbah Jum’at, ceramah di kampung, mimpin do’a, sudah. Yaa pemain lokal”. 
    “Oh my Allah … forgive him. Innahu qaumun laa ya’almuun. Wa huwa rojulun laa yadrri wa laa yadrii annahu laa yadrii”. “Aamiin”. 
    “Loh, kok sampeyan aamiin?” “Lha, kan barusan kyai menyampaikan doa”. “Oh … ya ya ya”. “Wkakakakakakak … kyai, kyai. Masa kyai yang berdo’a sendiri, kyai yang linglung. Apa gara-gara belum tahu status daging Dinosaurus jadi linglung?” “Ah ndak juga. Sampeyan aja yang kegeeran”.
    “Lha kalo begitu, silahkan jawab pertanyaan saya soal status daging Dinosaurus. Halal apa haram”. “Jadi sampeyan maksa nih”. 
     
    .................................. 

    “Ya ndak juga sih. Itu pun kalo kyai mampu menjawab”. 
    “Baiklah. Berhubung sampaeyan yang ahli Dinosaurus. Paham betul soal Dinosaurus, tolong sampeyan bawa ke sini itu Dinosaurus. Saya sembelih dengan menyebut nama Allah. Nanti dagingnya saya kirim ke laboratorium untuk diteliti. Apakah dagingnya aman untuk sampeyan konsumsi atau tidak. Mengandung racun atau tidak. Mengandung cacing pita atau taenasolium seperti terdapat pada daging babi atau tidak. Sing penting, sampeyan bawa Dinosaurusnya dulu ke sini. Piye?”
    “%$&*@#!%^$%*)(!!!” Gubraaaaaakkkkkkk!!! “Yah, dia nyungsep. Dino … Dino …qiqiqiqiqiqi. Para pembaca, nanya dong. Antropolog itu apaan sih, peternak Dinosaurus ye?”xixixixi 
     
    ~~~~SILAHKAN BE
    Terbitkan Entri
    RCELOTEH DI KOTAK KOMENTAR~~~

    Rabu, 27 April 2011

    Rehat Bersama Kyai Kocak "Ini dia Bukti Keberadaan Nya"

    بسم الله الرحمن الرحيم
    Assalamualaikum wr.wb,Halo Sharelikers sekalian,apa kabarnya sekalian,MAsih ingat dengan Kyai Kocak?ituloh cerita yang sudah saya buatkan halaman nya khusus.Hehehe,Kalo Belum tahu  Nih saya kasih linknya,heheSerial Kyai Kocak .

    Nah,Setelah sekian lama Vakum menulis cerita Kyai kocak,Kyai yang dengan segala jurus andalanya memusnahkan kemungkaran dan menegakkan kebajikan ini Come back,.,hehe Kayak superhero aja ya?tapi emang,cerita-cerita Kyai Kocak ini mengangkat realita yang terjadi ada ditengah-tengah masyarakat kita,begitulah karakter dan cerita yang dipaparkan oleh si pencipta Tokoh Kyai Kocak,Pak Abdul Muttaqin.

    Demi melepas kerinduan dengan polah tingkah kyai yang gokil ini dalam menghadapi realita ini lah yang membuat saya terbersit untuk melanjutkan ide ceritanya dengan karangan saya sendiri.Yah ,sebelumnya saya diberi kabar bahwa kyai kocak sudah dibukukan,tapi saya belum dapat yang aslinya dari pengarangnya langsung.Hem kapan ya saya dapat?.Meskipun kali ini ceritanya bukan berasal dari Pak Muttaqin,tetapi dari saya sendiri,Mungkin ada baiknya kita simak cerita nya yang satu ini,semoga  dapat diambil hikmah yang ada didalamnya,Oke langsung saja simak cerita Ngawur Namun Bermakna berikut Ini



    Suatu hari,(Jiah kayak enggak ada kata pembuka yang lain apa ya?) Di pesantren Tempat Kyai Kocak Berada,Ada Seorang Professor Yang kayaknya mau test Ilmu nih,Dengan gaya berjalan nya,yang sedikit mempongahkan dagunya,Dia Menghampiri Kyai yang lagi asyik menyeruput Kopi Luwaknya,ehm Enak bener pak kyai Narratornya jadi pengen juga,
    "Hei Narrator,Urusin aja tugas ber Ceritamu dah "kyai kocak memotong
    "Iya pak "saya menjawab,wah,jadi kelupaan deh skripnya wkwkw Oke sampai mana tadi ya?oh ya,sampai menyeruput Kopi.
    Kemudian Profesor itu mengucapkan salam,Lalu kyai pun menjawab,
    Kemudian Perbincangan terjadi
    "Assalamualaikum Kyai",si Profesor menyapa
    "walaikum salam warrahmatullahi wabarokatuh,oh ada tamu toh,silahkan masuk,silahkan duduk,Monggo,"
    "Udin,buatin minum buat tamu kita",teriak kyai pada salah satu santrinya
    "Wah gak usah repot-repot pak,Saya kesini cuma mau nemuin pak kyai,saya dengar kehebatan ilmu pak kyai jauh melewati ilmuwan sekelas Einstein sekalipun ,makanya saya kesini mau nemui,."
    "Walah sampeyan Berlebihan saja tohh,saya ini orang biasa,sekolah aja enggak tamat,biasa lah orang terlalu berlebihan,"
    "Ngomong-ngomong ,saya mau nanya sesuatu,sebenarnya saya bukan Islam,tapi saya bisa ngucap salam dari rekan muslim saya,ehmm gini pak kyai,sebenarnya saya itu tidak begitu percaya dengan yang namanya Tuhan"
    "Whatss??"kyai memotong dan sedikit Terkejut,sampe kopi yang diseruputnya muncrat,untung saja si profesor mengelak (lebay kah?)
    "Sampeyan udah gila ya?emang agama sampeyan apa toh??"kyai berceloteh
    "ya bukan saya tidak percaya kyai,Saya cuma ragu saja,soalnya saya sebagai Ilmuwan tidak bisa membuktikan nya,Agama saya ~~~~~~~(sensor)~~~~~ kyai.Nah ngomong-ngomong  tidak hanya itu yang saya ingin tanyakan,ada tiga pertanyaan yang saya ingin tanyakan yaitu 
    pertama,Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan kewujudan Tuhan kepada saya?
    Yang kedua, Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
    terakhir,Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukkan ke neraka yang dibuat dari api? Tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. "

    Wah orang ini mau adu ilmu rupanya ,belum tahu siapa yang dihadapinya,pikir kyai dalam hati

    Tiba-tiba si Udin datang dari belakang sambil membawakan minuman buat si professor itu.
    Hem,kesempatan mikir kyai,,ayo dimanfaatin,
    "Iya ni juga lagi mikir,sudah jangan mikirin saya,"Teriak kyai lagi pada narrator,
    "sibuk amat jadi narrator,gak liat apa saya lagi berfikir,mau ngeluarin jurus apa"
    ...........................................
    "Silahkan diminum minumannya,sampeyan pasti haus kan?",ujar Kyai
    "Ohh terima kasih kyai ,"
    TIba-tiba belum lagi si professor meletakkan minumannya di meja ,segempal tangan menampar wajahnya,.
    Praaaaaaaaaaakkkkkkkkkk
    Kontan saja professor itu terkejut sambil mengaduh
    "Adaauuuuuuuuuuuw"
    Kyai,apa yang sampeyan lakukan pada saya?Kenapa menampar saya?
    ckckck pak kyai berani amat main tampar ya,.,celoteh saya(narrator)
    "Sampeyan merasa sakit gak?"ujar kyai dengan enteng,Jurus pamungkas nya sudah dikeluarkan
    "Ya jelas sakit Lah ,Kyai aja pasti sakit kalo ditampar?iya toh?"
    "Nah sekarang,anda percaya sakit itu ada,"
    "Lah iyalah,kyai ada-ada saja" ,Kyai menyunggingkan senyumnya,nah lo,udah jurus kyai kena sasaran,sang professor tidak tahu bahwa pertanyaan yang dijawabnya menyudutkannya
    "Lah kalo sampeyan percaya Sakit Itu ada,bisakah dengan pembuktian Ilmiah sampeyan tunjukkan bagaimana bentuknya sakit itu?"
    Kontan saja professor wajah nya memerah,"Itu..,.itu,.,itu.,",Professor kebingungan menjawab,
    "Itulah Bukti Keberadaan Tuhan,Ada tapi tidak bisa dibuktikan wujudnya,hanya bisa dirasakan",timpal kyai
    belum lagi professor menjawab,kyai bertanya lagi,
    "Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?" Tidak jawab professor.
    "Itulah yang dinamakan takdir.,"sahut kyai lagi.
     "Tangan saya yg saya gunakan menampar sampeyan terbuat dari apa? Pipi sampeyan terbuat dari apa?" Keduanya terbuat dari kulit, jawab pemuda. Bagaimana rasanya? 

    tanpa basa-basi dengan muka yang memerah tanpa pamit lagi meninggalkan Kyai yang senyam-senyum sendiri,
    xixixixi,Kyai dilawan,.,.(randy)

    ~~~~~~~~~~~~~SILAHKAN BERCELOTEH DI KOTAK KOMENTAR~~~~~~~~~~

    Minggu, 20 Maret 2011

    Rehat bersama Kyai kOcak _"Kyai jadi guide"

     ”Kyai, diminta lurah nemenin Bule keliling Jakarta”.
    ”Kok, saya? Moenk saja yang Inggrisnya kaya aer”
    ”Katanya biar engga rewel. Bulenya rewel kalo gaednya perempuan. Lagian Bulenya pengen ngelancarin bahasa Betawinya”
    ”Terus, kalo sama saya rewel juga gimana?”.


    ”Yaaa udah. Kyai pasti bisa ngatasin. Bacain Yaasin tiga balik juga diem”
    ”Lha, you kira orang mati”.
    “He he he … selamat bersenang-senang kyai”.
    “Ki lurah ada-ada aja nih. Awas dia pengajian besok, tak sentil”
    ”Okey, ini apaan, kyai?”
    ”Monas mister”
    ”Dibangun berape lame?”
    ”Lebih kurang 3 taon”.
    ”Oo lame sekali. Di Eropa mungkin hanya butuh 9 bulan doang”.
    “Hebat. Cepat banget mister”.
    “Iya laah ...Kami punye teknologi. Kalo yang itu, tuga ape kyai”.
    ”Ooo, itu tugu Proklamasi. Dibangun kurang lebih empat taon”.
    “Terlalu lame. Di Eropa cukup setaun aje”.
    “Masa sih mister. Mister ngade-ngade kali”
    ”Ooo tidak kyai. Kami punye teknologi tinggi. Hal itu udah biase. Mungkin bagi kyai itu aneh ye?”.
    ”Ga juga siiih. Biase aje”.
    ”Nah, yang ini unik. Tugu ape namenye kyai dan berape lame dibangunnye?”
    “Ooo, itu namenye Tugu Pancoran Mister. Tapi yang ini aye kagak tahu percis”.
    ”Why? Tidak use malu, kyai. Katakan aje. Saya maklum kok”.
    ”Bukannye malu mister”
    ”Lalu ape?”
    ”Aye juge heran”.
    ”Heran bagaimane? Saya tidak heran kok. Paling cepet butuh tige tahun ye?”.
    ”Bukan Mister”
    ”Lalu kenapa kyai heran?”
    ”Soalnye, waktu bapaknye Buyut aye sore-sore lewat sini, tugu ini belom ade!".
    ”What!”.
    Rasain luh, kata kyai dalem ati.

    credit :for Abdul muttaqin

    Kamis, 17 Maret 2011

    Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Kamu Saya Cerai!

    "Kamu saya cerai", kata seorang laki-laki pada wanita di sampingnya.

    "Sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah bisa menceraikan saya", kata wanita itu tegas.



    "Pak kyai, bukankah itu artinya sudah jatuh talaq atas wanita itu?",kata santri pada kyainya yang kebetulan mendengar pertengkaran itu.

    "Wanita itu yang benar dan menang. Laki-laki itu takkan bisa menceraikan wanita di sampingnya itu meskipun seratus kali dia menjatuhkan talaq", kata kyai arif.

    "Loh, kyai yang salah. Menurut fiqih, itu sudah jatuh talaq", santrinya ngotot.

    "Fiqihnya yang salah", kata kyainya ngga mau kalah.

    "Tidak bisa bisa begitu. Mungkin kyai yang lupa?", santrinya heran.

    "Wong mereka bukan suami istri", kata kyainya nyantai.

    "Walaaaah, ketepu", santrinya tersungut-sungut.


    Selasa, 08 Maret 2011

    Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Di Surga Tidak Ada Nenek-nenek”

    ”Maaf kyai, saya datang lagi”, seorang nenek bertandang.

    ”Ayo, silahakan  duduk”.

    “Terima kasih kyai, merepotkan lagi”, sang nenek seolah tak enak hati.

    ”Bu, bikin teh tubruk dan pisang gorengnya sekalian”, kyai meminta isterinya menghidangkan sajian.

    ”Tak usah repot-repot kyai”.

    ”Ngomong-ngomong, ada perlu apa lagi?”

    ”Pak kyai, saya mau ngucapin terima kasih. Do’a-do’a pak kyai tempo hari terbukti semua. Sekarang saya tentrem. Anak-anak semua perhatian. Pada rukun kabeh”.

    ”Alhamdulillah, tapi itu bukan semata-mata do’a saya. Usaha anak-anak nenek juga”.

    ”Ya, tapi kami semua percaya do’a kyai lebih didenger Tuhan”, nenek memuji-muji.

    ”Ah, jangan begitu. Semua do’a siapapun berhak didengar Tuhan”, kyai merendah.

    ”Kali ini, saya minta do’a lagi. Do’a yang paling akhir buat saya yang sudah renta”, nenek merajuk.

    “Do’a apa itu?”,kyai percaya diri banget.

    “Tolong do’akan saya agar saya masuk surga?”

    “Wah, kalo yang ini, saya tidak bisa nek. Do’a yang lain saja yah!”.

    ”Engga, saya maunya do’a yang ini”, nenek ngotot .

    ”Do’a yang begini engga bakal diterima, nek. Saya nyerah. Do’a yang lain saja”, kyai panik.

    ”Kok, begitu. Bapak kan kyai?”, nenek mulai kesel.

    ”Jangankan kyai, Nabi aja engga mau do’ain nenek-nenek masuk surga”, kyai membela diri.

    ”Apa alasannya??”, nenek putus asa.

    ”Anu, nek. Di surga tidak ada nenek-nenek!”.

    ”Haaaaa, oh my god!!”, nenek histeris. Langsung angkat pantat. Tanpa permisi kabur meninggalkan rumah kyai.

    Kyai memangil, ”Neeek, pisang gorengnyaaaaa”.

    ”Ora doyaaaaan”, nenek menjawab setengah teriak.

    Esoknya, kyai berkirim surat meminta sang nenek membaca surat Al-Waaqi’ah [56] : 35 sampai dengan 37).

    Rabu, 02 Maret 2011

    Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Tuhan Itu Agamanya Apa? ”

        ”Pak kyai, saya ingin ngajak diskusi tentang Tuhan. Bersediakah?”, seorang mahasiswa jurusan Perbandingan Keyakinan membuka dialog.


        ”Tidak”, kyai nampak kurang berkenan.


        ”Mengapa?”, mahasiswa tingkat akhir itu seolah menekan kyai atas keengganan kyai melayani tantangannya.


        ”Tuhan  bukan untuk didiskusikan. Tapi didengar dan dipatuhi aturan-Nya”, kyai memberi alasan normatif.


        ”Tapi, jika dari hasil diskusi nanti malah membuat orang jadi taat, bagaimana?”, sang mahasiswa memberi umpan. Memancing-mancing kyai.


        ”Apakah sampeyan bisa menjamin begitu?”, kyai sedikit memberi ruang gerak seolah benar-benar terpancing.


        ”Tidak juga”, sang mahasiswa jujur. Meskipun dia merasa sebagai orang yang kritis, tapi soal keyakinan ia tidak berani memberi jaminan seperti opsi yang disodorkan kyai.


        ”Kalau begitu, sebaiknya jangan pernah mendiskusikan Tuhan. Sampeyan dan saya, tidak akan pernah mendapat kebaikan apapun. Mendiskusikan ciptaan Tuhan saja, umur sampeyan engga akan cukup, apalagi mendiskusikan Sang Pencipta. Yang ada sampeyan malah terjebak pada kekufuran”, kyai menasehati. Khas kyai.


        ”He he he ... biasa. Pola pikir kyai memang seperti itu, kolot”, sang mahasiswa mulai berani meniup bara, berharap emosi kyai menyala.


        ”Kyai dianggap kolot itu biasa, yang sadis seperti temen sampeyan yang menyebut  kyai atau ulama dengan cemoohan ”tolol”. Biasa aja tuh", kyai tahu dia tengah diprovokasi anak masih bau kencur.


        ”Apakah kyai tidak menangkap kesan, bahwa dalam al-Qur’an begitu banyak ayat yang mengajak kita memahami tentang Tuhan?”, kali ini, jurus mahasiswa yang suka membanding-bandingkan agama-agama itu semakin menusuk jantung sensitifitas kyai. Beharap kyai itu bisa diajak berkelahi dengan nalar kritis. Begitu niatnya.


        ”Nah, kalau al-Qur’an sudah membimbing sampeyan untuk memahami Tuhan, mengapa harus lagi didiskusikan pada saya? Apakah al-Qur’an belum cukup jelas untuk sampeyan?”, kyai masih setia dengan kesabarannya.


        ”Bukan begitu kyai, al-Qur’an sendiri seringkali mengusik kita dengan ungkapan “afalaa ta’qiluun, afalaa tatafakkaruun, afalaa yatadabbaruun. Ini kan merangsang setiap kita untuk jengan pernah berhenti berfikir. Karena kalau kita memilih berhenti berfikir, sama dengan berhenti hidup, alias mati. Secara pribadi saya tidak mau disebut sebagai orang mati yang bernafas ”, walah, makin gesit, makin berbahaya serangannya dan makin berusaha memojokkkan kyai.


        ”Waaah, sampeyan mulai lepas kendali, nih. Saya ingatkan, jangan terlalu asyik dengan keberanian logika, apalagi menyangkut Tuhan. Tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali ketidakpuasan”, kyai masih menyimpan sisa-sisa kesabaran.


        ”Inilah bedanya kita dengan orang Barat. Orang Barat punya kebebasan berpikir dan memikirkan apa saja dibanding kita. Maka mereka lebih maju dari kita. Tidak ada kata tabu, meskipun akal mereka mendiskusikan Tuhan”, canggih. Keihatannya mahasiswa ini memang sudah menyiapakan banyak amunisi.


        ”Lah sampeyan orang mana?”, kyai mulia berdamai dengan keadaan. Kayaknya, kyai akan terpaksa melayani mahasiswa itu tetapi masih wait and see.


        ”Saya orang Timur, muslim yang ingin belajar kepada Barat, supaya saya tercerahkan”, sombongnya dibuka sendiri. Mahasiswa ini seolah ingin menunjukkan bahwa tradisi berfikir kritis harus ditiru dari Barat.


        ”Apa sampeyan mau jadi seperti Harvey Cox yang berani menyimpulkan bahwa Tuhan telah mati?”, agaknya, kyai mulai serius.


        ”Tapi saya tidak sekejam itu. Bagi saya, Tuhan Maha Hidup dan tidak mati. Hanya saja, pikiran saya selalu terganggu dengan pertanyaan, kalau orang beragama beriman kepada Tuhan, terus apa dong agama Tuhan?”, mahasiswa ini rupanya telah termakan dengan daya kritisnya sendiri. Dia tidak sadar telah diperbudak oleh akalnya dan ikut-ikutan membenturkan antara agama dan eksistensi Tuhan. Sebuah sikap arogan yang ditunjukkan karena merasa akal dapat memecahkan setiap persoalan, termasuk masalah Tuhan.


        ”Kalo sampeyan yakin Tuhan  tidak mati, untuk apa sampeyan cape-cape memecahkan misteri apa  agama Tuhan? Sampe kiamat, sampeyan kaga bakalan bener”, kyai masih wait and see. Masih menggunakan senjata mahasiswa yang dilempar kepadanya.


        ”Loh, mengapa begitu?, nah loh, ada sedikit celah yang terbuka.


        ”Sampeyan rupanya mengabaikani hakikat agama. Agama itu dibutuhkan bukan sebatas jalan manusia saat hidup, tetapi nasehat sampai manusia mati, dibangkitkan dan akhirnya menuju surga atau neraka. Hanya agama yang sanggup menjelaskan dan menuntun manusia harus bagaimana saat dia hidup dan bagaimana akhirnya ketika dia mati. Makanya menjadi aneh, Tuhan yang sampeyan yakini tidak akan mati, lalu dicari-cari agamanya apa. Kalau Tuhan membutuhkan agama, itu artinya Tuhan membutuhkan petunjuk, kalau sesuatu butuh ditunjuki, bukan Tuhan namanya. Apa sampeyan engga ada pekerjaan laen selain ngorek-ngorek soal ini?”, kyai sedikit esmosi. Tapi esmosi kyai tidak sambil mencak-mencak kaya si Pitung ngelawan tentara bayaran kompeni.


        ”Loh, itu namanya kritis”, sang mahasiswa berkelit.


        ”Bukan, itu namanya krisis. Sampeyan sedang mengalam krisis kepercayaan. Sampeyan diganggu oleh akal sampeyan, makanya sampeyan seperti orang yang kehilangan Tuhan dalam iman sampeyan”, kata-kata kyai makin filosofis.


        ”Ah, kyai  mengada-ada. Kyai hanya menghindar dari tema sentral diskusi ini”, sang mahasiswa tidak mau kalah. Ia mencoba menyinggung harga diri kyai.


        ”Apa sampeyan tetep ngotot, ingin memecahkan persoalan yang sampeyan ciptakan sendiri?”, kyai melempar kebingungan untuk mahasiswa ini.


        ”Bukan semata-mata saya ciptakan kyai, tetapi merespon ajaran Qur’an untuk selalu berpikir kritis. Agar kita tidak terjebak pada taqlid tanpa mengetahui kebenaran dan dasar pembuktiannya”, wah, terkesan, mahasiswa ini mampu mematahkan semua nasehat kyai, cerdas dan ahli memainkan kata-kata memukau.


        ”Wah wa wah, sampeyan gagah sekali. Seandainya sampeyan sudah tahu Tuhan itu agamanya apa, terus sampeyan mau bagaimana?”, kyai rupanya sudah tidak sabar. Biarlah keluh hatinya, orang sombong kudu disombongin lagi.


        ”Saya akan tinggalkan agama saya dan ikut agama Tuhan saja”, mahasiswa ini  ngomong tanpa jeda. Mantap.


        ”Astaghfirullah, bahlul ente! Coba saya liat KTP sampeyan, jangan-jangan sampeyan cuma ngaku Islam doang. Jangan-jangan sampeyan penyusup”, kyai sudah tidak punya cara lain selian membungkam segera mahasiswa ini.


        ”He he he he he ... engga usah risau kyai. Ini KTP saya. Lihat …, Islamkan?”, mahasiswa merasa telah berhasil mengerjai kyai. Disosdorkannya KTP miliknya sambil menggerak-gerakkan alisnya naik turun cepat sekali.


        “Ooo Islam beneran toh sampeyan. Ya sudah kalo begitu”, kyai menunjukkan seolah dia kalah, padahal pukulan telak telah disiapkan kyai.


        “Ya sudah bagaimana maksud kyai”.


        “Loh, sampeyan kan ingin tahu Tuhan agamanya apa?”, kyai menutup perseteruan.


        “Iya”, mahasiswa seperti orang linglung.


        “Ya lihat saja "KTP"-Nya!”, kyai ngeloyor pergi. Dalam hati, kyai minta ampun beristighfar sebanyak-banyaknya. Kyai merasa dunia semakin diisi oleh orang sinting. Semoga dirinya tidak ikut-ikutan sinting

    credit :for Abdul muttaqin

    Minggu, 27 Februari 2011

    Rehat Bersama Kyai Kocak_ "Otak Kancil"

    Seorang kyai, seorang rabbi Yahudi dan seorang pendeta Nasrani mengembara. Perbekalan mereka tinggal sepotong roti dan setegukan air mineral. Roti dan air itu hanya cukup untuk seorang saja.

    ”Sebaiknya roti dan air ini kita sedekahkan saja” kata kyai.

    ”Jangan, kita juga sedang membutuhkan”, jawab rabbi.

    ”Kita bikin sayembara saja, siapa di antara kita yang berhak atas roti dan air ini”, kata pendeta.

    ”Saya setuju”, kata rahib.

    ”Bagaimana caranya?”, tanya kyai.


    “Siapa yang paling indah mimpinya malam nanti, dialah yang berhak atas roti dan air ini. Bagaimana,kalian setuju?”

    Ketiganya setuju. Pendeta Nasrani cengar-cengir menyusun rekayasa mimpi yang akan diceritakannya esok hari. Begitu juga rabbi Yahudi. Sementara kyai tidak peduli mimpi apa yang akan diceritakan nanti. Menurutnya, pastilah mereka berdua berbohong dan merekayasa mimpi seenak perut mereka.

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga sudah bangun.

    ”Kalian mau dengar mimpi apa aku semalam?”, pendeta membuka percakapan. Ia sudah tidak tahan ingin segera menikmati roti dan air untuk memuaskan rasa laparnya.

    ”Apa mimpimu?, tanya rabbi.

    ”Semalam, Nabi Isa menemuiku, mengajak aku terbang ke angkasa dan melihat pintu surga”

    ”Waaah, itu mimpi yang indah”, kyai bergumam.

    ”Terima kasih kyai”, pendeta kegirangan.

    ”Cuma diajak terbang dan melihat pintu surga?” rabbi menimpali.

    “Benar, bukankah itu mimpi yang indah, seperti kata kyai?”, pendeta menjawab mantap.

    “Bahkan aku diajak terbang oleh nabi Daud mengendarai Buraq dan aku diperkenankan membukakan pintu surga untuknya”.

    “Wah, itu lebih indah”, kata kyai. Rabbi terlihat puas, pendeta kelihatan sinis pada kyai.

    ”Lalu apa mimpimu kyai?’, tanya pendeta penasaran.

    ”Jujur, mimpiku tidak seindah mimpi kalian”, kata kyai.

    ”Kalau begitu, kami berdua yang berhak atas roti itu”, kata rabbi.

    ”Sebentar, apakah kalian tidak mau mendengar mimpiku yang tidak seindah mimpi kalian?”, tanya kyai.

    ”Baiklah, biar bagaimanapun, mimpimu patut kami dengarkan”, kata pendeta.

    ”Satu hal pintaku, aku yakin benar akan kebenaran mimpi kalian. Tapi apakah kalian mempercayai mimpiku?”, tanya kyai.

    ”Kyai engkau sudah berkata jujur, bahwa mimpumu tidak seindah mimpi kami. Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mempercayai mimpimu. Sekarang ceritakanlah”, jawab rabbi mantap.

    ”Terima kasih kalau begitu”,

    ”Cepatlah ceritakan perihal mimpimu? Mimpi tidak indah saja dijual mahal”, pendeta mulai naik pitam.

    ”Begini wahai pendeta, rabbi, tadi malam Nabi isa dan Nabi Daud bersama-sama menemuiku. Nabi Isa berkata, assalamu’alaikum kyai. Aku jawab wa’alaikumussalam. Begitu juga Nabi Daud mengucapkan salam padaku”.

    ”Dipersingkat saja, kyai. Jangan  bertele-tele”, rabbi mulai juga tidak sabar.

    ”Baiklah. Lalu, seorang dari kedua Nabi mulia itu berkata, ”Kyai, bangunlah segera dan makanlah roti itu dan minumlah airnya”.

    Lalu aku bangun dan menyantap roti dan air yang tersisa”, kyai menyudahi cerita mimpinya.

    Pendeta kecele.  Rabbi tersungut-sungut. Kyai cengar-cengir penuh kemenangan.

    Pendeta berbisik pada rabbi, ”Dasar kancil!”.

    "Kancil?",kata rabbi.

    "Kancil yang suka nipu hewan lain", pendeta mempertegas.

    "Apa rabbi belum pernah diceritakan tentang kisah kancil dan buaya?", pendeta berpanjang kalam.

    "Berarti kita, buaya donkkkkkkkk".

    "Ups", pendeta dan rabbi serentak menutup mulutnya.