Tampilkan postingan dengan label republik kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label republik kita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2012

Masih Ingatkah Dengan Petrus?

Petrus,Haruskah Di bangkitkan lagi untuk menumpas "Pemeras" Rakyat?

Mayat-mayat itu rata-rata bertato, sementara dada atau kepalanya berlubang karena ditembus peluru. Mayat itu ada yang ditemukan dengan tangan terikat tergeletak begitu saja di pinggir kali. Mayat lain ada yang ditemukan di dalam karung di bantaran kali. Ada pula yang ditemukan di semak-semak. Berita soal penemuan mayat di mana-mana itu menghiasi media massa sepanjang 1983-1985. Setiap hari nyaris selalu ada berita penemuan mayat dengan kondisi menakutkan itu. Selama 1983-1985, memang muncul penembak misterius atau yang dikenal sebagai petrus. Mayat-mayat dengan lubang peluru di kepala atau dada yang ditemukan di sembarang tempat itu diduga kuat merupakan korban "petrus".

(---Majalah Detik---)

Apa yang dimaksud Petrus?

Bicara soal sejarah,Indonesia memiliki sejarah kelam dimasa kediktatoran Bung Harto,Presiden RI yang kedua,yang memimpin Indonesia. 32 tahun bukanlah masa yang pendek untuk jabatan seorang presiden.Nah,disaat itulah,Indonesia mampu bersaing dibawah kendalinya dalam bidang ekonomi dan pembangunan.Disatu sisi,Kepemimpinan Soeharto mampu membuat stabilitas ekonomi dan Keamanan Meningkat,disisi lain,ternyata ada banyak sisi kelam dari seorang Jenderal Penumpas Gerakan G30S PKI ini.

Sebelumnya saya sampaikan,Post ini bukan Post untuk menyudutkan pihak siapapun,Sebagai orang indonesia,kita mesti tau sejarah yang sebenarnya akan mantan pemimpin bangsa ini.Terlepas baik buruknya beliau,Karena jasa Beliau terbilang sangat besar untuk bangsa ini #salutation for him.Jadi jika ada yang merasa tersinggung atau tak setuju,mohon dimaklumi

Baiklah, Mari kembali ketopik. Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus (operasi clurit) adalah suatu operasi rahasia dari Pemerintahan Suharto pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu. Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus",singkatan dari penembak misterius

revolver  petrus

Sejarah Petrus Dan Aksinya

Petrus tidak lahir dengan sendirinya.berawal dari operasi pe­nang­gulangan kejahatan di Jakarta. Pada tahun 1982, Soeharto memberikan peng­har­gaan kepada Kapolda Metro Jaya, Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keber­ha­silan membongkar perampokan yang meresahkan masyarakat.

Pada Maret tahun yang sama, di hadap­an Rapim ABRI, Soehar­to meminta polisi dan ABRI mengambil lang­kah pemberantasan yang efektif me­ne­kan angka kriminalitas. Hal yang sama diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982. Permintaannya ini disambut oleh Pang­­­opkamtib Laksamana Soedomo da­lam rapat koordinasi dengan Pangdam Ja­ya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI Jakarta di Markas Kodam Metro Ja­ya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian diikuti oleh kepolisian dan ABRI di ma­sing-masing kota dan provinsi lainnya

Bagaimana kehebatan Petrus ini dan pola aksinya?.Kala itu, para pria bertato disergap ketakutan karena muncul desas-desus, petrus mengincar lelaki bertato. Peristiwa penculikan dan penembakan terhadap mereka yang diduga sebagai gali, preman, atau residivis itu, belakangan, diakui Presiden Soeharto, sebagai inisiatif dan atas perintahnya.

Dengan entengnya Soeharto bilang: "Ini sebagai shock therapy," kata Soeharto dalam biografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.Tercatat, Tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Para korban Petrus sendiri saat ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat.

Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun.Pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat keamanan.

Pada masa itu, para preman menjadi sangat takut untuk keluar rumah, bahkan pemuda bukan preman tapi mempunyai tato di badannya kadang juga sering menjadi incaran para petrus. maka tak heran jka pada masa itu, Rumah sakit kewalahan menerima para pemuda yang ingin menghapus tato mereka.

Tercatat ada 11 provinsi yang menerapkan petrus, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Bali, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.Tapi sampai sekarang, belum ada pengakuan resmi dari pemerintah . Dan bahkan kasus ini seakan hilang begitu saja seiring dengan lengsernya kekuasaan Soeharto.

gali,tatoo

Mestikah Dibangkitkan Kembali?

Meski begitu, Petrus diyakini sebagai salah satu produk pemerintahan Soeharto untuk menghabisi para preman yang meresahkan masyarakat. Dan terbukti, cara itu cukup manjur. Setidaknya banyak preman yang kalang kabut, takut keluar rumah, bahkan harus rela menghapus tato yang melekat di tubuh mereka karena takut ditangkap dan dihabisi oleh si Petrus.

Nah..saat ini zaman dan mode premanisme kembali mengemuka dan berubah. Pembunuhan seorang bos yang diduga dilakukan oleh sekelompok preman, serta bentrok maut yang terjadi di RSPAD Gatot Soebroto, semakin menegaskan kondisi ini, meski sebenarnya ini bukanlah hal yang baru lagi. Lalu perlukah menghidupkan Petrus kembali? Sebagaimana suara-suara yang mulai terdengar akhir-akhir ini?

Bukan hanya itu,Premanisme sekarang sudah berubah wujudnya.Bukan hanya yang level teri.Bagaimana dengan "pemeras" rakyat yang berdasi?yang hidup dari Uang rakyat?Yang kemudian melarikan uang rakyat?Apakah mesti digalakkan Petrus agar mereka jera?

Jawabannya pasti tidak akan mudah. Petrus memang terbukti manjur membasmi sekaligus menakut-nakuti preman kala ini. namun, itu dulu, saat negara kita dikuasai oleh satu kekuatan tunggal.

Saat negara ini berjalan dalam satu kepemimpinan yang cenderung otoriter sehingga pemerintah seperti memiliki legitimasi untuk melakukan apapun untuk menjaga stabilitas negara, meski dalam versi mereka dan untuk kepentingan mereka.

Nah..saat ini kondisi sudah berbeda. Negara kita tidak lagi dikuasai oleh single majority. Siapapun memiliki hak untuk menuntut meskipun penyimpangan itu dilakukan oleh pemerintah sekalipun.

Artinya, andai saja Petrus, atau model operasi sejenis misalnya, muncul kembali, bisa jadi kegaduhan yang lebih dahsyat akan muncul, terutama yang menyangkut isu HAM.#bukan hamburger

Lihat saja beberapa Quote yang pernah dilontarkan beberapa sosok cendikiawan dan hukum dizaman itu akan aksi Petrus berikut ini:

Setuju mengenai adanya penembak-penembak misterius dalam menumpas pelaku kejahatan. Demi untuk memberikan rasa aman kepada 150 juta rakyat Indonesia, tidak keberatan apabila ratusan orang pelaku kejahatan harus dikorbankan.

Ketua MPR/DPR Amir Machmud (Sinar Harapan, 21 Juli 1983).

Sedikitnya ada empat aspek yang harus diperhatikan, yaitu aspek keamanan, sosial, ekonomi dan politik. Memang aspek keamanan lebih menonjol, tapi tidak berarti aspek lainnya dapat ditinggalkan! Untuk itu para petugas keamanan agar tidak hanya terpukau pada aspek yang menonjol itu saja, tapi harus mendalami keseluruhan permasalahannya.

Oka Mahendra S.H. (Kompas, 16 April 1983).

Saya melihat sistem konvensional ini sudah tidak bisa mengatasi masalah kriminal yang terjadi di Indonesia, maka ini harus diambil satu pertimbangan, kriminalitas dibasmi atau tidak. Jadi keputusannya dibasmi demi kepentingan rakyat

Waka DPA Ali Murtopo (Sinar Harapan, 28 Juli 1983).

Sekalipun mereka penjahat, namun sebagai manusia berhak mendapat keadilan melalui lembaga peradilan. Dan menembak ditempat, walaupun oleh petugas Negara, jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan.

Ketua Yayasan LBH Adnan Buyung Nasution S.H. (Sinar Harapan, 14 Mei 1983).

Pada dasarnya Petrus hanya sebuah contoh dari ketegasan pemerintah dalam menanggani setiap kegiatan yang berpotensi menganggu dan meresahkan masyarakat meski barangkali menegaskan betapa berkuasanya pemerintah kala itu. Artinya, masalah sebenarnya bukan pada apakah harus menghidupkan Petrus atau tidak saat ini, melainkan pada bagaimana pemerintah bisa menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi masalah premanisme ini, ataupun masalah yang lain. Kalaupun ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa negara ini butuh Si Petrus, tidak lain dan tidak bukan lebih dipicu oleh kegemasan dan kegeraman melihat lembeknya pemerintah, melalui aparat keamanannya dalam menanggani "premanisme modern" yang sudah jelas-jelas meresahkan.

Andai pemerintah dan aparat keamanan memiliki ketegasan yang benar-benar nyata dan terlihat, suara-suara untuk menghidupkan kembali Petrus tak akan terdengar karena negara ini tak butuh Si Petrus yang hanya merupakan bentuk nyata dari otoriterisme.Nah,bagaimana dengan anda?apa Opini anda?apa mesti dihidupkan Kembali si petrus ini?

Senin, 05 Maret 2012

Sejarah Keris Indonesia


keris

SEJARAH KERIS INDONESIA

Senjata Dengan Nilai Budaya,Sejarah dan Misteri

Indonesia,Negara tempat saya dilahirkan ini, terkenal dengan kekayaan seni serta alamnya.Tengok saja kebudayaan indonesia,yang beraneka ragam dari sabang sampai merauke.Dari berbagai budaya tersebut,lahirlah benda-benda seni yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia,seperti Batik,Tarian,Alat Musik serta Senjata tradisional dan Adat istiadat.Kesemua itu bersatu dalam satu tanah air dengan ikatan BHinneka Tunggal Ika.Salah satu hasil dari cipta manusia Indonesia yang patut kita banggakan adalah KERIS.

Keris adalah sejenis senjata tikam khas,yang bermata dua,dan seringkali bentuknya tidak simetris alias berliku-liku dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan ukiran logam cerah pada helai bilah dari Indonesia tercinta. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut.

Sebenarnya,Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di daerah Jawa, Madura, Bali/Lombok, Sumatra, sebagian Kalimantan, serta sebagian Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina (khususnya di daerah Mindanao) dan Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan.Di Mindanao, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan senjata tikam.

Asal-usul keris belum sepenuhnya terjelaskan karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif mengenainya dari masa sebelum abad ke-15, meskipun penyebutan istilah "keris" telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi. Kajian ilmiah perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di relief candi atau patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.

keris

Awal mulanya adalah Pengaruh dari India-Tiongkok.Dugaan pengaruh kebudayaan Tiongkok Kuna dalam penggunaan senjata tikam, sebagai cikal-bakal keris,Senjata tajam dengan bentuk yang diduga menjadi sumber inspirasi pembuatan keris dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan perundagian dari Kebudayaan Dongson dan Tiongkok selatan. Sejumlah keris masa kini untuk keperluan sesajian memiliki gagang berbentuk manusia (tidak distilir seperti keris modern), sama dengan belati Dongson, dan menyatu dengan bilahnya.

Sikap menghormati berbagai benda-benda garapan logam dapat ditelusuri sebagai pengaruh India, khususnya Siwaisme. Prasasti Dakuwu (abad ke-6) menunjukkan ikonografi India yang menampilkan "wesi aji" seperti trisula, kudhi, arit, dan keris sombro. Para sejarawan umumnya bersepakat, keris dari periode pra-Singasari dikenal sebagai "keris Buda", yang berbentuk pendek dan tidak berluk (lurus), dan dianggap sebagai bentuk awal (prototipe) keris. Beberapa belati temuan dari kebudayaan Dongson memiliki kemiripan dengan keris Buda dan keris sajen.

  • keris
  • keris
  • keris Empu gandring
  • keris

Sejarah mengenai pemakaian keris telah ada sejak zaman dahulu kala.Itu bisa diperkirakan dari prasasti-prasasti ataupun kitab serta pahatan arca di candi peninggalan Kerajaaan Hindu Buddha Indonesia zaman dahulu kala.Yang paling menyerupai keris adalah peninggalan megalitikum dari lembah Basemah Lahat Sumatera Selatan dari abad 10-5 SM yang menggambarkan kesatria sedang menunggang gajah dengan membawa senjata tikam (belati) sejenis dengan keris hanya saja kecondongan bilah bukan terhadap ganja tetapi terdapat kecondongan (derajat kemiringan) terhadap hulunya. Selain itu satu panel relief Candi Borobudur (abad ke-9) yang memperlihatkan seseorang memegang benda serupa keris tetapi belum memiliki derajat kecondongan dan hulu/deder nya masih menyatu dengan bilah.

Dalam pengetahuan perkerisan Jawa (padhuwungan), keris dari masa pra-Kadiri-Singasari dikenal sebagai "keris Buda" atau "keris sombro". Keris-keris ini tidak berpamor dan sederhana. Keris Buda dianggap sebagai bentuk pengawal keris modern.

Contoh bentuk keris Buda yang kerap dikutip adalah milik keluarga Knaud dari Batavia yang didapat Charles Knaud, seorang Belanda peminat mistisisme Jawa, dari Sri Paku Alam V. Keris ini memiliki relief tokoh epik Ramayana pada permukaan bilahnya dan mencantumkan angka tahun Saka 1264 (1342 Masehi), sezaman dengan Candi Penataran, meskipun ada yang meragukan penanggalannya.

Adapun cerita yang paling terkenal dan dicatat dalam buku sejarah SMA Saya dulu mengenai keris ini adalah kisah terbunuhnya Empu Gandring yang mati ditangan si pemesan Keris yaitu Ken Arok,raja Singosari.Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok.

Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi "ditransfer" kedalam keris buatannya itu.

Karena Mpu gandring tidak menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu (belum menyelesaikan Sarung Kerisnya),maka Si Ken Arok membunuh Mpu gandring yang ternyata membawa kutukan baginya.Sebelum Tewas,Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok.

Pada masa dahulu,Pemaparan-pemaparan asing menunjukkan fungsi keris sebagai senjata di kalangan awam Majapahit. Keris sebagai senjata memiliki bilah yang kokoh, keras, tetapi ringan. Berbagai legenda dari periode Demak–Mataram mengenal beberapa keris senjata yang terkenal, misalnya keris Nagasasra Sabukinten.

Laporan Perancis dari abad ke-16 telah menceritakan peran keris sebagai simbol kebesaran para pemimpin Sumatera (khususnya Kesultanan Aceh). Godinho de Heredia dari Portugal menuliskan dalam jurnalnya dari tahun 1613.

Ia mengatakan bahwa orang-orang Melayu penghuni Semenanjung ("Hujung Tanah") telah memberikan racun pada bilah keris dan menghiasi sarung dan hulu keris dengan batu permata.

Pada masa kini, keris memiliki fungsi yang beragam dan hal ini ditunjukkan oleh beragamnya bentuk keris yang ada.Keris sebagai elemen persembahan sebagaimana dinyatakan oleh prasasti-prasasti dari milenium pertama.

Pada masa kini, keris juga masih menjadi bagian dari sesajian. Lebih jauh, keris juga digunakan dalam ritual/upacara mistik atau paranormal.Keris disebut-sebut sebagai benda yang punya kekuatan mistik dan bahkan bisa berdiri!.

Keris untuk penggunaan semacam ini memiliki bentuk berbeda, dengan pesi menjadi hulu keris, sehingga hulu menyatu dengan bilah keris. Keris semacam ini dikenal sebagai keris sesajian atau "keris majapahit"(tetapi tidak sama dengan keris tangguh Majapahit)!.

Media massa sering mengidentikkan keris semacam ini dengan "seram", "dukun", "klenik", "ilmu hitam", dan lain-lain.padahal didalam ilmu pembuatannya itu adalah wesi aji,dan dengan itu kita tahu bahwa leluhur kita amat cakap dalam ilmu gravitasi serta fisika dan jauh dari kata "musyrik".alih-alih menyebarluaskan pandangan yang benar tentang wesi aji,media massa malah melakukan "bunuh diri budaya".

"Penghalusan" fungsi keris tampaknya semakin menguat sejak abad ke-19 dan seterusnya, sejalan dengan meredanya gejolak politik di Nusantara dan menguatnya penggunaan senjata api. Dalam perkembangan ini, peran keris sebagai senjata berangsur-angsur berkurang. Sebagai contoh, dalam idealisme Jawa mengenai seorang laki-laki "yang sempurna", sering dikemukakan bahwa keris menjadi simbol pegangan ilmu/keterampilan sebagai bekal hidup. Berkembangnya tata krama penggunaan keris maupun variasi bentuk sarung keris (warangka) yang dikenal sekarang dapat dikatakan juga merupakan wujud penghalusan fungsi keris.


Pada masa kini, kalangan perkerisan Jawa selalu melihat keris sebagai tosan aji atau "benda keras (logam) yang luhur", bukan sebagai senjata. Keris adalah dhuwung, bersama-sama dengan tombak.

Keduanya dianggap sebagai benda "pegangan" (ageman) yang diambil daya keutamaannya dengan mengambil bentuk senjata tikam pada masa lalu.

Bahkan diciptakan suatu tarian yang melibatkan Keris sebagai aksesoris tariannya(tari Keris). Di Malaysia, dalam kultur monarki yang kuat, keris menjadi identitas kemelayuan.

Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Penempatan keris di depan dapat diartikan sebagai kesediaan untuk bertarung.

Selain itu, terkait dengan fungsi, sarung keris Jawa juga memiliki variasi utama: gayaman dan ladrang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan dalam upacara-upacara kebesaran.

Keris-keris yang dibuat oleh para pandai keris sekarang dikenal sebagai keris kamardikan ("keris kemerdekaan"). Periode ini melahirkan beberapa pandai keris kenamaan dari Solo seperti KRT.Supawijaya (Solo), Pauzan Pusposukadgo (Solo), tim pandai keris STSI Surakarta, Harjosuwarno (bekerja pada studio milik KRT Hardjonagoro di Solo),dll.

Keris disebut sebagai jati diri bangsa, karena keris dibentuk setidaknya dari 3 unsur. Ditempa dalam bara, semangat keselarasan, dan nuansa kedekatan dengan Yang Maha Tinggi.

Tak beda dengan terbentuknya bangsa ini, yang terbangun dari berbagai suku, ras, agama, dan golongan. Kemudian disimbolkan dalam "bhinneka tunggal ika".

Oleh karena itu kita mesti menjaga, melestarikan, dan menghargai keris sebagai warisan budaya bangsa Melayu yang Kaya ini agar tidak punah dan diakui bangsa lainnya.

keris

Artikel ini dipersembahkan dengan bangga oleh putra bangsa Indonesia yang diinspirasi dari Wikipedia/Keris dan gambar dari google.
Tampil baik di Firefox 5+, Opera 10, dan Safari 4.0.4.Efek CSS 3 yang digunakan pada artikel ini tidak muncul di IE.


Selasa, 16 Agustus 2011

Indonesia Tiga Kali Proklamasi


Assalamualaikum wr.wb

MERDEKA,teriakan itu menggema diseluruh nusantara pada hari bersejarah ini.Dan Akhirnya posting tentang Hari yang sangat bersejarah ini sampai pada ujungnya.Kali ini Yang Penting Share akan menggabungkannya dengan hari bersejarah lain yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang yaitu Indonesia Pernah tiga kali proklamasi ,mari kita simak kembali sambungan cerita sejarah sebelumnya Ini.

proklamasi
proklamasi
proklamasi

Proklamasi 17 Agustus 1945

Pagi itu di jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, sudah dipenuhi dengan orang-orang yang berharap peristiwa besar akan terjadi. Jumat, 17 Agustus 1945, halaman rumah di jalan Pegangsaan Timur no.56 menjadi tempat berkumpulnya para pemuda. Sebuah tiang menjadi tatapan dan mereka berharap mimpinya akan berkibar di ujung tiang itu.

Seseorang memasuki halaman, lalu menuju ke dalam rumah. Sejenak ia mendapatkan keheningan, waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Lalu ia memasuki sebuah kamar dan mendapatinya sedang tertidur pulas. Pelan-pelan ia mengusap kaki seseorang yang terlihat lelah. Lelaki itu baru pulang pagi tadi dari Rengasdengklok.

Lelaki itu terbangun dan memandangnya. Senyumnya begitu lemah, terucap kata, “pating greges.” Tamu yang disapanya memberikan obat, setelah memeriksa ada panas di tubuh lelaki yang dibangunkannya.

Dialah seorang dokter bernama dr. R. Soeharto, dan lelaki yang mengatakan dirinya tak enak badan itu adalah Soekarno. Lalu atas persetujuan Soekarno, sang dokter memberinya sebuah suntikan chinine-urethan intramusculair. Lalu Soekarno melanjutkan tidurnya sejenak.

Pukul 9.30 pagi, Soekarno terbangun, tubuhnya terlihat lebih sehat. Ketika berjumpa dengan sang dokter, ia meminta agar Hatta segera dipanggil untuk datang.

Dengan berpakaian rapi, mengenakan pakaian serba putih (celana lena putih dan kemeja putih) dengan potongan yang saat itu popular disebut sebagai “kemeja pimpinan” dengan bersaku empat, Soekarno menyambut Hatta dan segera menuju halaman depan rumahnya. Sebuah teks Proklamasi dibacakan.

inilah sebuah pernyataan kemerdekaan yang sebelumnya di dalam pidatonya Soekarno ada mengatakan “…sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan tanah air di tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib di tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya…”

....................

Akan tetapi ternyata jauh sebelum tujuh belas agustus, di dua tempat di Nusantara, Para pahlawan daerah telah lebih dulu mengumandangkan proklamasi kemerdekaan atas penjajah,berikut ini penjelasan sesuai dengan sejarah yang banyak tidak diketahui orang-orang.

Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942

nani Wartabone

Kekalahan Belanda oleh Jepang, pada Perang di Laut Jawa, membuatnya menjadi gelap mata. Gorontalo dibumi hanguskan yang dimulai pada tanggal 28 Desember 1941. Adalah seorang pemuda bernama Nani Wartabone (saat itu berumur 35 tahun) memimpin perjuangan rakyat Gorontalo dengan menangkapi para pejabat Belanda yang masih ada di Gorontalo.

Bergerak dari kampung-kampung di pinggiran kota Gorontalo seperti Suwawa, Kabila dan Tamalate, mereka bergerak mengepung kota Gorontalo. Hingga akhirnya Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah takluk pada pukul 5 subuh.

Dengan sebuah keyakinan yang tinggi, pada pukul 10 pagi Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman Kantor Pos Gorontalo. Dan dihadapan massa yang berkumpul, ia berkata :

“Pada hari ini, tanggal 23 Januari 1942, kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas, lepas dan penjajahan bangsa mana pun juga. Bendera kita yaitu Merah Putih, lagu kebangsaan kita adalah Indonesia Raya. Pemerintahan Belanda sudah diambil oleh Pemerintah Nasional. Agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban.”

Selanjutnya Nani Wartabone mengumpulkan rakyat dalam sebuah rapat akbar (layaknya peristiwa lapangan Ikada) di Tanah Lapang Besar Gorontalo untuk menegaskan kembali kemerdekaan yang sudah diproklamasikan.

Namun sayangnya ketika Jepang mendarat di Gorontalo, 26 Februari 1942, Jepang melarang pengibaran bendera Merah Putih dan memaksa rakyat Gorontalo untuk takluk tanpas syarat kepada Jepang.

Kisah Nani Wartabone terlalu panjang untuk diungkapan, walau ia di masa Jepang mengalami patah semangat ketika Jepang tak mau diajak berkompromi hingga akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Suwawa dan hidup sebagai petani.

Saat kekalahan Jepang oleh Sekutu, Jepang bersikap lain. Sang Saka Merah Putih diijinkan berkibar di Gorontalo dan Jepang menyerahkan pemerintahan Gorontalo kepada Nani Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sementara rakyat Gorontalo baru mengetahui telah terjadi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 28 Agustus 1945.

Nani Wartabone memimpin Gorontalo untuk masa-masa kelam berikutnya, menghadapi pasukan Belanda yang membonceng Sekutu. Dalam sebuah perundingan di sebuah kapal perang sekutu pada tanggal 30 November 1945, Belanda menangkap dan menawannya. Ia dibawa ke Manado dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942 yaitu Proklamasi yang dibacakannya.

Namun di waktu yang berjalan, kekalahan sekutu mengubah nasibnya kelak. Ia kembali ke Gorontalo pada tanggal 2 Februari 1950. Nani Wartabone pada tanggal 6 April 1950 menolak RIS dan memilih bergabung dengan NKRI. Untuk beberapa waktu ia dipercaya sebagai kepala pemerintahan di Gorontalo, hingga Penjabat Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan anggota DPRD Sulawesi Utara. Selanjutnya ia memilih untuk kembali tinggal dan bertani di desanya di Suwawa.

Tapi itu juga tak berlangsung lama. Letkol Ventje Sumual dan kawan-kawannya memproklamasikan pemerintahan PRRI/PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957. Ia terpanggil kembali untuk melawan. Namun perlawanan tak seimbang, karena pasukan Nani Wartabone kekurangan persenjataan, hingga mereka memilih untuk bergerilya di dalam hutan, sekedar menghindar dari sergapan tentara PRRI/PERMESTA.

Pada bulan Ramadhan 1958 datanglah bantuan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa. Bersama pasukan-pasukan dari pusat inilah mereka berhasil merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.

Proklamasi Cirebon 16 Agustus 1945

Kekalahan Jepang tinggal menghitung hari saja, setelah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Namun karena Jakarta tidak termasuk jalur perang Jepang dengan Sekutu, maka yang terlihat kekuatan bala tentara Jepang masih utuh.

Suasana Jakarta tetap mencekam bagi para kelompok pergerakan. Ada 4 kelompok illegal menurut Maroeto Nitimihardjo yang tampak saat itu, yaitu kelompok Soekarni, Kelompok Sjahrir, Kelompok Mahasiswa dan Kelompok Kaigun.

Kelompok-kelompok itu mendengar Sjahrir meminta Soekarno dan Hatta untuk mempercepat pernyataan Proklamasi sekembalinya Soekarno dan Hatta dari perundingan di Dalat, Saigon dengan Marsekal Terauchi, wakil kaisar Jepang. Namun Soekarno masih menunggu kepastian dari Laksmana Maeda tentang hal kekalahan Jepang tersebut

Hal ini membuat kelompok-kelompok illegal itu marah dikarenakan mereka melihat keraguan Sjahrir selama ini untuk menjalankan kesepakatan bahwa Sjahrirlah yang harus siap memimpin kemerdekaan dikarenakan ia bersih dari pengaruh Jepang. Hingga membuat kelompok-kelompok illegal ini, tidak termasuk Sjahrir bergerak cepat.

Terjadi beberapa pertemuan antara lain di Jalan Cikini Raya 71, di Lembaga Ecykman dan di Laboratorium Mikrobiologi (di samping pasar Cikini). Wikana dan dr. Darwis ditugaskan untuk mendesak langsung Soekarno-Hatta (tanpa perantara Sjahrir) untuk memproklamirkan kemerdekaan yang berujung dengan “penculikan” atau membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Gerak cepat yang tak ragu-ragu ini akhirnya melahirkan sebuah peristiwa di pagi hari di tanggal 17 Agutus 1945 sebagai hari kemerdekaan.

Di waktu yang berjalan cepat dalam ketidak pastian peristiwa, seorang bernama dr.Soedarsono (ayah dari Juwono Soedarsono) datang bertemu Maroeto Nitimihardjo (seperti pengakuannnya di buku berjudul “Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan” karangan Hadidjojo, anak Maroeto) di sebuah ‘pengungsian’ bagi istri dan anaknya yaitu di desa Perapatan, sebelah barat Palimanan, 30 km jauhnya dari Cirebon tempat dr.Soedarsono berasal. Dr.Soedarsono meminta teks Proklamasi yang dibuat Sjahrir yang katanya dititipkan pada Maroeto. Namun Maroeto menyatakan tidak ada.

Hingga dr.Soedarsono menjadi berang dan berkata,“Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon.”

Dan akhirnya terkabarlah bahwa Proklamasi itu dibuat dan dibacakan oleh dr.Soedarsono pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 di alun-alun Cirebon yang dihadiri sekitar 150 orang. Sehari sebelum Soekarno membacakan Proklamasi di penggangsaan Timur 56 Jakarta.

Namun kisah yang dipaparkan Maroeto berbeda dengan kisah yang diungkap oleh Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Menurutnya, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya yang melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dilakukan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus 1945.

Ada sebaris teks proklamasi yang diingat oleh Des Alwi yaitu :

“Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.


teks proklamasi

referensi:warofweekly

Ya meskipun Proklamasi Ada tiga kali ,tetap saja ,Proklamasi yang dikumandangkan Oleh Soekarno pada tanggal 17 agustus 1945 menjadi puncak perjuangan yang pada akhirnya harus keluar dari mulut Soekarno, sebuah bukti sejarah bahwa ia memang layak mengambil posisi untuk menyatakan itu.

Karena sebelum Proklamasi ini terjadi, sebelumnya juga sudah dibacakan dua proklamasi yaitu Proklamasi Gorontalo 23 Januari 1942 dan Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945. Namun kedua Proklamasi ini tidak diakui sebagai buah pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia dalam arti sebagai hari peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia.

PERJUANGAN KITA MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN BELUM SELESAI

DIRGAHAYU INDONESIAKU YANG KE 66

MERDEKA,SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA


Senin, 15 Agustus 2011

Alasan Soekarno memilih tanggal 17 agustus 1945

Setelah Pertemuan Malam itu,para golongan muda yang tidak puas dengan jawaban soekarno, Mereka mengambil kesimpulan satu-satunya maksud me- nyingkirkan Bung Karno dan Bung Hatta itu dari pengaruh Jepang adalah dengan cara menculik kedua tokoh itu.

Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi “penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60)

Bung Karno marah dan kecewa, terutama karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik.

Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.

Soekarno_hatta

Kenapa Rengas Deklok dipilih?

rengasdeklok

Rengasdengklok kota kecil dekat Karawang dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA ( Pembela Tanah Air ) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama

Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15 km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.

Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, ternyata tidak membuahkan hasil hasil yang memuaskan. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya.

Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta . Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak mau didesak begitu saja.

Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan rencana mereka sendiri. Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas;

” Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …”. ” Lalu apa ?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.


Soekarno Memilih tanggal 17

Suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; ” Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17 “.” Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?” tanya Sukarni.

Soekarno menjawab: ” Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci.

Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “. Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi(1984:61).


Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta .Adalah Laksamana Tadashi Maeda, yang bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya.

Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00.

Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta (Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:82-83).



Merumuskan Teks Proklamasi Kemerdekaan

Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno.

Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco ( kepala pemerintahan umum ), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan.

Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah menyatakan menyerah kepada Sekutu, maka berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo.

Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis kebi ­ jakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerde ­ kaan.

Melihat kenyataan ini, Soekarno-Hatta sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicara­kan soal kemerdekaan Indonesia dengan Jepang. Mereka hanya berharap agar pihak Jepang tidak menghalang-ha ­ langi pelaksanaan proklamasi kemerdekaan oleh rakyat Indonesia sendiri ( Hatta, 1970:54-55 ).

Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda.

Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung.

Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan tua maupun dari golongan pemuda, menunggu di serambi muka.

Menurut Soebardjo (1978:109) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam, rumusan teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan konsep proklamasi pada secarik kertas.

Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai , sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta.

Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan ( transfer of sovereignty ). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.

Sekilas tentang laksamana Maeda

Rumah Laksamada Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya. De Graff yang dikutip Soebardjo ( 1978:60-61 ) melukiskan sikap Maeda seperti ini.

Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.Sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang telah melihat lebih banyak dunia ini dari rata-rata seorang perwira Angkatan Darat , ia mempunyai pandangan yang lebih tepat tentang keadaan dari orang-orang militer yang agak sempit pikirannya.

Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa. Ia adalah pejabat yang bertanggungjawab atas Bukanfu di Batavia; kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia. Ia tidak khusus membatasi diri hanya pada tugas-tugas militernya saja, tetapi agar dirinya dapat terbiasa dengan suasana di Jawa , ia membentuk suatu kantor penerangan bagi dirinya di tempat yang sama yang pimpinannya dipercayakan kepada Soebardjo. Melalui kantor inilah, yang menuntut biaya yang tidak sedikit baginya, ia mendapatkan pengertian tentang masalah-masalah di Jawa lebih baik dari yang didapatnya dari buletin-buletin resmi Angkatan Darat. Terlebih-lebih ia memberanikan diri untuk mendirikan asrama-asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia .

Pemimpin-pemimpin terkemuka, diperbantukan sebagai guru-guru untuk mengajar di asrama itu. Doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Lebih lincah dari orang-orang militer, ia berhasil mengambil hati dari banyak nasionalis yang tahu pasti bahwa keluhan-keluhan dan keberatan-keberatan mereka selalu bisa dinyatakan kepada Maeda. Sikap Maeda seperti inilah yang memberikan keleluasaan kepada para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang maha penting bagi masa depan bangsanya.


Setelah kelompok yang menyendiri di ruang makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di ruangan itu. Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo ( 1978:109-110 ) melukiskan suasana ketika itu: “ Sementara teks Proklamasi ditik, kami menggunakan kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang dapur, yang telah disiapkan sebelumnya oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok.

Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya bercampur dengan beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri di samping saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin . Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka pertemuan dini hari itu dengan beberapa patah kata.

“Keadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing“. Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama menandatangani naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia . Saran itu diperkuat oleh Mohammad Hatta dengan mengambil contoh pada “Declaration of Independence ” Amerika Serikat.

Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang tidak setuju kalau tokoh-tokoh golongan tua yang disebutnya “budak-budak Jepang” turut menandatangani naskah proklamasi. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah proklamasi itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.Usul Sukarni itu diterima oleh hadirin.

Naskah yang sudah diketik oleh Sajuti Melik, segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Persoalan timbul mengenai bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan kepada rakyat di seluruh Indonesia , dan juga ke seluruh pelosok dunia.

Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut Soebardjo(1978:113), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondong-bondong ke lapangan IKADA pada tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan.

Akan tetapi Soekarno menolak saran Sukarni. ” Tidak ,”kata Soekarno,” lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden ? Lapangan IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi .” Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.

Bersambung

referensi:


Senin, 20 Juni 2011

Isu Hangat :USM STAN dibatalkan Benarkah ?

Assalamualaikum wr.wb

agus martowardojo
Agus martowardoyo
Hello sahabat sharelikers,khususnya para lulusan tahun ini.Hem pastinya setelah mendapatkan selembar surat dari kepala sekolah yang bertanda "LULUS" itu sangat menyenangkan,sampe-sampe bajupun dicorat coret (aku gak termasuk ah).Nah setelah lulus,mau dibawa kemana?.Yang pastinya ingin melanjutkan ke perguruan tingggi,terutama yang ternama dan siap kerja.Hem so pasti,itu impian semua orang,termasuk Yang penting share.Tapi bagaimana bila sekolah tinggi impian anda mengkandaskan impian anda?hem tentunya sobat bertanya-tanya,ada apa denganmu STAN??.

Begitulah kira-kira yang sedang hangat-hangat pisang goreng saat ini.Berita tentang Sekolah  Gayus tambunan dulu (gak semua kayak gayus kalee),alias Sekolah tinggi administrasi negara (STAN)  itu menggagalkan USM atau ujian saringan masuk bagi para mahasiswa baru tahun ini .Kenapa? Ternyata nih,Sampai saat ini pengumuman pendaftaran Ujian Saringan Masuk (USM) STAN belum lagi dikeluarkan secara resmi oleh pihak STAN. Menurut isu yang beredar sebenarnya proposal USM STAN 2011 sudah diajukan oleh pihak BPPK (Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan) dalam hal ini STAN, tetapi tampaknya Menteri Keuangan Agus Martowardojo belum mau tanda tangan.

Menkue Agus Martowardoyo mempunyai kriteria tersendiri untuk menjaring para pegawainya kelak. Karena sama-sama kita tahui bersama lulusan STAN hampir 90% bekerja di Kementerian Keuangan. Fakta ini diperkuat lagi dengan latar belakang Menkeu Agus Martowardojo yang merupakan mantan Direktur Utama Bank Mandiri yang tentunya mempunyai syarat-syarat kepersonaliaan tersendiri yang ketat dalam menjaring pegawai.Sampai tulisan ini diturunkan (cielahh) STAN hanya menuliskan di website-nya: 
Sampai saat ini STAN belum menerbitkan release secara resmi tentang USM STAN 2011, sehingga pihak STAN tidak bertanggung jawab akan pengumuman yang diterbitkan oleh pihak-pihak lain. 

Ketika tulisan ini diturunkan pun website resmi STAN yang beralamat di http://stan.ac.id tidak bisa dibuka. Isu ini juga diperkuat lagi dengan riwayat pendaftaran pembukaan USM STAN yang biasanya dibuka tidak jauh-jauh dari akhir bulan Mei sampai bulan Juni. Namun, sampai pertengahan Juni 2011 sekarang pengumuman USM STAN belum lagi dibuka.

STAnSelain itu nih perlu sobat ketahui, keberadaan STAN cukup dipertanyakan. Karena menurut beberapa pejabat BPPK sendiri, garis organisasi STAN dengan BPPK yang merupakan unit eselon 1 yang berada di bawah Kemenkeu, boleh dikatakan tidak ada.

Selain itu berdasarkan landasan hukum, keberadaan STAN yang merupakan PTK juga dianggap melanggar UU No.20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional menurut mantan Mendiknas Bambang Sudibyo. Hal ini diperparah lagi dengan keberadaan PP No.14 Tahun 2010 yang mewajibkan input dari PTK haruslah berpendidikan S1 atau setara, sehingga PTK termasuk STAN hanya sebagai pendidikan profesi saja. STAN yang selama ini langsung menjaring mahasiswa dari latar belakang SMA atau setara pun dianggap melanggar PP ini oleh sebagian pihak.

Hem dulunya pengen banget masuk kesana,tapi sayang mungkin belum beruntung,soalnya kemaren test gatot alias gak lulus total .hahaha,gak perlu di sesali dah,hehehe.Buat para adek-adek yang berharap masuk STAN semoga Isu miring ini tidak benar,oke kita berdoa aja.Semoga isu-isu yang berhembus dapat kita sikapi dengan sebaik-baiknya.


Sumber: http://nugraha-corporation.blogspot.com/2011/06/usm-stan-2011-batal-karena-tidak_13.html

Kamis, 21 April 2011

Waw,Lembaga Terkorup Se-indonesia adalah DPR

Assalmualaikum wr.wb
Pagi Sharelikers,Udah bangun dan mandi kan?Oh ya,tadi saya sempat baca berita terkini di Yahoo,mengenai Lembaga terkorup di Indonesia.Sedih memang mendengarnya,DPR sebagai wakil dari aspirasi rakyat justru "menjuarai" kontes Lembaga terkorup di Indonesia.Hal ini memperburuk Citra Indonesia di mata Dunia,Bahkan Indonesia dikenal sebagai salah satu Negara terkorup di Asia (Sebagai orang Indoneisa saya sangat sedih mendengarnya ,kalau sharelikers bagaimana?), namun hal itu telah menjadi fakta.

Dikutip dari Yahoo.news,Survei Kemitraan memperlihatkan, lembaga legislatif menempati urutan nomor satu sebagai lembaga terkorup dibandingkan lembaga yudikatif dan eksekutif.  Hasil survei tersebut menyebutkan korupsi legislatif sebesar 78%, eksekutif 32% dan Yudikatif 70%.

Survei yang dilakukan pada 2010 dengan metode targetted (meminta pendapat orang tertentu yang berkompeten untuk menilai di lembaga masing-masing) ini dilakukan di 27 provinsi di Indonesia.Target responden adalah anggota parlemen, masyarakat, kalangan pemerintah, akademisi dan media massa. "Yang kami survei bukan orang sembarangan, tapi orang-orang yang memang tahu dan paham soal instansi yang disurvei," ujar Spesialis Pendidikan dan Pelatihan Proyek Pengendalian Korupsi Indonesia Laode Syarif, Rabu (20/4).

Menurut Laode, tingginya korupsi di lembaga tersebut disebabkan beberapa hal, antara lain, tidak ada program antikorupsi yang holistik. Selain itu, tidak ada komitmen yang serius dari Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif untuk memperbaiki diri. Program antikorupsi yang dijalankan pemerintah pun, menurutnya, masih bersifat kasuistik dan tambal sulam(alias gali lobang tutup lobang).

"Juga tidak ada target yang nyata dan terukur untuk memberantas korupsi hingga 2014. Sementara hingga kini para pengambil keputusan di Legislatif, Eksekutif, Yudikatif banyak yang melakukan korupsi," tegasnya.Karena itu, lanjut Laode, untuk menghindari masalah laten korupsi di tiga lembaga tersebut, seharusnya ke depan pemberantasan korupsi tidak hanya tertuju pada presekusi tapi juga pada pencegahan. Selain itu, harus ada sistem pencegahan dan penindakan yang terintegrasi antara lembaga penegak hukum (Polisi, Jaksa, KPK, Pengadilan, dan juga Penjara)."Juga jangan lupa, para pengacara kadang harus juga disentuh agar mereformasi diri," ujarnya.

Nah sob,bagaimana enggak sedih kita mendengarnya?bayangin aja,hutang negara menumpuk,para pejabat korup,rakyat semakin terpuruk,lantas siapa yang nantinya akan memimpin bangsa ini kalau bukan kita Generasi Muda?Mari sob,kita berantas korupsi dimulai dari diri kita,biar kita terbiasa nantinya.Oke sob,sekian dulu berita dari saya,hehehehe,selamat beraktivitas.

~~~SAY NO TO DRUGS,SAY NO TO DO CORRUPTION~~~~

Rabu, 06 April 2011

Jero Wacik Bingung Hadapi Hantu Indonesia

Baru kali ini ada menteri kita yang menyadari terperosoknya dunia perfilman kita,dengan maraknya film buka-bukaan yang dibalut dengan kesan horror.Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik mengaku bingung lantaran masih maraknya film bertema horor yang menampilkan pocong dan sosok hantu lainnya.


"Saya masih mencari cara bagaimana mengurangi film yang tidak bermutu itu," katanya ketika membuka acara Lokakarya Pengembangan Seni Budaya dan Perfilman di Jakarta .Ia mengatakan, dirinya masih menunggu sampai kapan masyarakat Indonesia bosan menonton film berbau pocong sehingga produsernya akan berhenti memproduksi film serupa itu.

Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan masih maraknya film-film bergenre horor karena masih tingginya minat masyarakat terhadap film tersebut."Jalur Lembaga Sensor Film (LSF) belum melarang hal itu. Jadi sepanjang belum keluar dari koridor, maka film-film itu masih diizinkan tayang," katanya.

Saat ini, ia mengatakan, dunia film Tanah Air sedang menuju ke tahap yang lebih baik meski sekarang sudahmulai baik, tetapi masih banyak yang belum menunjukkan mutu yang masih perlu ditingkatkan.Pihaknya juga sedang terus mencari cara untuk menurunkan tingkat pembajakan di dunia film yang kini masuk dalam tahap yang semakin memprihatinkan.

Menurut dia, film pada dasarnya mendorong terciptanya gerakan ekonomi di mana saat sebuah film dibuat, maka akan ada ratusan orang terlibat di dalamnya sehingga membuka peluang lapangan pekerjaan."Itu akan diikuti efek ganda berikutnya dari segala macam yang mendorong terciptanya film," katanya.

Dengan begitu, ia menilai, pada dasarnya penciptaan film memberikan kesejahteraan lahir dan batin bagi masyarakat sehingga perlu didorong agar semakin meningkat kuantitas dan kualitasnya.Pada kesempatan itu, pihaknya berharap terbangun kemitraan strategis dalam pembangunan seni dan budaya, khususnya film di Indonesia.Lokakarya tersebut dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Ketua Komisi X DPR, asosiasi bidang seni budaya, seniman, budayawan, dan pelaku seni yang lain. 

Ada benarnya apa yang dikatakan beliau,so bila kita menilik lagi ditutupnya film dari luar ke Indonesia,bukannya membuat dunia perfilman kita semakin maju,tetapi semakin mundur.Meskipun ada beberapa yang masih tetap dengan prinsip kualitas daripada permintaan pasar perfilman.Kita tunggu saja kapan yah orang Indonesia bosan nonton film pocong dan sebangsanya?keenakan mereka tuhh,masuk TV melulu,hehehe kayak gak ada bintang dari alam kita aja,bagaimana pendapat anda?(sumber)

Senin, 28 Maret 2011

Wake up Nurdin, you will not be elected again

nurdin silit
President RI,Susilo Bambang Yudhoyono has fully entrusted Youth Affairs and Sports Minister Andi Mallarangeng with his way of solving the row over the holding of the All-Indonesia Football Association (PSSI) congress.

Presidential spokesperson Julian Aldrin Pasha toll the press at the Presidential Palace here on Monday That what the Sports Ministers has conveyed in response to the holding of the congress reflected the government's official stance.

 "The bottom line Is That for (solving) the PSSI (problem) the government has delegated, and, fully represented by the sports minister. The president has fully authorized the sports minister, Who is believed to have assessed and evaluated the situation in an effort to solve the problem, "he said.

The sports minister has periodically reported the progress of the congress in Pekanbaru, Riau province, on March 25-26 to President Yudhoyono, he said. The statements by the sports minister on the matter was a referential source on that particular matter.

Mallarangeng Minister said on Monday That the government was waiting of FIFA's official decision about the holding of the congress, whose main agenda were the resource persons appointing the Selection Committee and Appeal Committee.

If the results of the congress were the resource persons Positively accepted by FIFA, then all the steps on the holding of the Congress Prepared by 78 out of the total of 100 members with valid voting rights Should Be implemented to meet the FIFA-set deadline.

FIFA, last month, Had asked PSSI to convene a congress to elect a chair and deputy-chairs as well as members of executive committees for the 2011-2015 term of office before April 30, 2011.

If FIFA did not accept the Pekanbaru congress' results, the government and the national sports committee (KONI) PSSI That Would assume under the management of Nurdin Halid and Secretary General Nugraha Besoes were the resource persons incompetent in holding the congress.

The congress in Pekanbaru was CANCELED by the current management of PSSI for security problems after allegedly posed threats third parties. One candidate for the chair of PSSI is General George Toisutta, the chief of staff of the army.

so wake up nurdin,you wont be a chief of PSSI anymore..........(source)

Kamis, 03 Maret 2011

Wah-wah Iklan Kartu XL dievaluasi karena menakuti anak-anak

Operator layanan selular XL Axiata telah menindaklanjuti protes yang dilayangkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap iklan layanan promo SMS gratis yang ditayangkan di beberapa stasiun TV swasta.

"Kami sangat menghargai masukan dari masyarakat, dalam hal ini KPAI yang keberatan terhadap iklan kami," ujar Head of Corporate Communication PT XL Axiata Febriati Nadira kepada VIVAnews.com melalui telepon, Kamis 3 Maret 2011. 

Sebelumnya, KPAI secara resmi melayangkan keberatan mereka terhadap tayangan iklan promo SMS gratis XL ke semua operator. Iklan itu menggambarkan gadis yang keranjingan berkirim SMS dengan rambut terurai menutupi wajah, sehingga terkesan seperti hantu.
"Iklan untuk tayangan publik harus berprespektif dan melihat kepentingan anak," kata Wakil Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, pada rilis yang dikirim kepada VIVAnews.com, Kamis 3 Februari 2011.

Iklan gadis mirip hantu itu, kata Sholeh, tidak mendidik dan berpotensi melanggar hak anak. Sebab, iklan itu dikhawatirkan bisa menimbulkan persepsi berbeda dari anak, sehingga hak tumbuh kembang anak akan terganggu.

KPAI mengaku, mendapat sejumlah pengaduan atas tayangan iklan 'hantu wanita' XL yang membuat takut anak-anak. Oleh karenanya, KPAI mengimbau agar tayangan iklan lainnya juga tidak berkonsep hantu. "Tayangan publik harus memenuhi hak tumbuh kembang anak dan prinsip perlindungan anak. Jangan sampai justru membuat trauma anak," katanya

Lebih jauh, Sholeh meminta agar iklan mirip hantu ditinjau ulang, dan ditertibkan.
Sebenarnya, menurut Ira, sapaan Febriati Nadira, XL telah mengkaji 'iklan hantu SMS' ini secara menyeluruh - termasuk dalam kaitannya dengan aspek hukum - sebelum produk itu ditayangkan ke khalayak umum. 

Iklan, kata Ira, adalah bahasa kreatif yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. "Kami hanya ingin agar masyarakat bisa menangkap pesan dari value added yang ingin kami tawarkan kepada mereka," katanya. 

Namun, ia tak menampik pesan itu kemudian bisa diterima dan dipersepsikan secara berbeda oleh masyarakat, khususnya KPAI. "Kami berterimakasih dan menghargai keberatan ini, dan kini masih kami diskusikan secara internal.

Sumber :vivanews

Senin, 28 Februari 2011

How Palace Hopes The Settlement of Dipo Alam's Dispute with Media

Dipo ALam
Presidential spokesman Julian Aldrin Pasha has expressed hope that the dispute between Cabinet Secretary Dipo Alam and Media Group would be solved well. But he admitted here on Monday that to date President Susilo Bambang Yudhoyono had so far not given any directives to Dipo Alam to seek the best possible solution to his problem with Media Group.
"We certainly expect the best possible solution to the case, although there has yet to be any directives from the president to Dipo Alam to do so," Julian said.



The presidential spokesman reiterated what Dipo Alam had done in relation with Media Group was his personal business and had nothing to do with his job as an aide to the President. Therefore, Julian said, any legal consequences of Dipo Alam’s actions were his own personal responsibility.
"He acted in his own capacity and thus the legal process is certainly his own responsibility," Julian said, adding that Dipo Alam’s criticism of certain media was not to obstruct press freedom.

The conflict between Dipo Alam and Media Group has entered the legal domain after the latter reported the former to the police.

Source : Antara